Ziarah ke Makam Mangkunegoro VII, KPI Pusat Usulkan Gelar Pahlawan Nasional Penyiaran

Bramantyo, Okezone · Minggu 28 Maret 2021 20:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 28 512 2385529 ziarah-ke-makam-mangkunegoro-vii-kpi-pusat-usulkan-gelar-pahlawan-nasional-penyiaran-SuMdkazgif.jpg Ketua KPI Agung Suprio bersama pengurus ATVSI ziarah ke makam KGPAA Mangkunegoro VII (Foto: Bramantyo)

KARANGANYAR - Usai menelusuri tempat bersejarah terkait dengan penyiaran di Indonesia yang ada di Kota Solo, Jawa Tengah. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melanjutkan napak tilas ke tempat bersejarah lainnya, yaitu dengan berziarah ke makam Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII yang ada di Girilayu, Matesih, Karanganyar.

Pantauan MNC Portal Indonesia, dipimpin langsung Ketua Umum KPI Pusat Agung Supriyo, para komisioner serta anggota Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) terlihat khusyuk berdoa di makam KGPAA Mangkunegoro VII.

Baca Juga:  KPI Gelar Literasi Media, Rangkaian Peringatan Hasiarnas 2021 Dimulai di Batam

Menurut Agung, dunia penyiaran di Tanah Air tak bisa seperti saat ini tanpa peran dari KGPAA Mangkunegoro VII. Berkat jasa-jasa KGPAA Mangkunegoro VII, di kota Solo pertama kalinya muncul radio milik orang Indonesia Solosche Radio Vereeniging (SRV) di tahun 1933 jauh sebelum Indonesia merdeka.

"SRV lahir jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh KGPAA Mangkunegoro VII dan merupakan stasiun radio pertama milik bangsa Indonesia. Kala itu di tengah keterbatasan Mangkunegoro VII bisa membuat radio dan menyebarluaskan gagasan tentang kebudayaan dan eksistensi Nusantara," papar Agung Supriyo, pada MNC Portal Indonesia, Minggu (28/3/2021).

Atas dasar itulah, di hari Penyiaran ke 88, KPI, ungkap Agung, meminta pada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk memberikan gelar Pahlawan Nasional di bidang Penyiaran kepada KGPAA Mangkunegoro VII. Pemberian gelar pahlawan pada KGPAA Mangkunegoro VII sudah sewajarnya diberikan. Sebab, di eranya, Mangkunegoro VII mampu mengangkat eksistensi Nusantara jauh sebelum negara Indonesia merdeka.

"Sebelum Indonesia merdeka, radio ini telah meneguhkan eksistensi dari Republik melalui Indonesia Solosche Radio Vereeniging (SRV) yang kala itu sudah mengudara hingga negeri Belanda. Atas dasar itulah kami memohon kepada Presiden RI, Mangkunegara VII jadi Pahlawan Nasional di bidang penyiaran," tegasnya.

Baca Juga:  Sinergi Mewujudkan Kualitas Konten Siaran Indonesia

Karena itulah, Agung berharap agar Pemkot Solo mengusulkan pemberian gelar pahlawan untuk diteruskan kepada KPI serta Menkominfo. "Andaikata bila Mangkunegoro VII tidak memulai penyiaran, mungkin budaya Nusantara akan tenggelam sebab dikuasai arus informasi Belanda," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini