Tata kota dengan penempatan bangunan-bangunan seperti kota Jayakarta pada dasarnya tak berbeda dengan tata kota lainnya di pesisir utara Jawa pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam seperti Banten, Cirebon dan Demak.
“Bangunan-bangunan kraton, masjid, pasar, dan alun-alun mencerminkan pusat kekuasaan politik antara masyarakat dengan raja dan birokrat. Ketika itu Kraton Jayakarta , juga terdapat perumahan para abdi dalem, dikelilingi oleh pagar kota dari bambu yang kemudian menjadi pagar tembok,” kisahnya.
Dari berita Belanda, penduduk kota utama Jayakarta sekitar tiga ribu kepala keluarga atau sekitar 15 ribu jiwa. Pada 30 Mei 1619 Belanda tanpa mengenal ampun telah menghancurkan dan membumihanguskan Kraton Jayakarta. Termasuk masjid tempat ibadah yang seharusnya dihormati. Pihak penjajah bukan hanya menghancurkan Jayakarta tapi mengusir seluruh penduduk.
15 ribu jiwa termasuk anak-anak kecil harus menyingkir ke Jatinegara Kaum yang jaraknya sekitar 20 km dari Kota Intan.
Kala itu mereka harus melewati hutan belukar. Di Jatinegara Kaum mereka mendirikan Masjid Asy-Salafiah yang hingga kini masih berdiri tegak. Pangeran Jayakarta dan anak buahnya melalui masjid menggerakkan pasukan bergerilya melawan Belanda.
Kali Besar menjadi sumbu membelah Kota Lama menjadi dua bagian utama: barat dan timur menyambung dengan pelabuhan kanal (haven kanaal) di muara Sunda Kalapa.
Kota Lama sekitar Kali Besar sampai 1880 terletak dalam kota bertembok. Hingga kita dapati sekarang Jalan Pintu Besar dan Jalan Pintu Kecil. Dipisah oleh Kali Ciliwung yang sudah diluruskan pada abad ke-18, awalnya Kali Besar menjadi pemisah antara kota bagian timur dan bagian barat (Kali Besar Timur dan Kali Besar Barat).
Kota di bagian timur didominasi warga Belanda dan bagian barat oleh warga Cina, Portugis, dan berbagai etnis lainnya. Mulanya baik etnis Eropa maupun Cina tinggal dalam 'tembok kota'. Namun, setelah pembantaian Cina pada Oktober 1740 warga Cina dilarang tinggal di sana, dan pindah ke kawasan Glodok.
Ketika Gubernur Jenderal Marsekal Herman Daendels memindahkan pusat kota Batavia ke arah selatan (Weltevreden), warga Eropa tetap menjadikan Kali Besar sebagai pusat perniagaannya. Dari Weltevreden (sekitar Harmoni, Gambir, Pasar Baru, dan Lapangan Banteng) mereka naik trem listrik ke Kali Besar. Dari kediamannya, para bule ini membawa bekal untuk makan siang dan pulangnya kembali naik trem listrik.
Dahulu, di Kali Besar tinggal para pedagang kaya VOC dan pada masa itu merupakan kejayaan kawasan ini. Mereka tinggal di rumah-rumah besar yang mentereng dan bagian dalamnya berlantaikan marmer lokal yang sangat indah.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.