Diperintahkan Jadi Tahanan Rumah, Mantan Putra Mahkota Yordania Bersumpah Melawan

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 05 April 2021 18:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 05 18 2389766 diperintahkan-jadi-tahanan-rumah-mantan-putra-mahkota-yordania-bersumpah-melawan-si4bbkxDgt.jpg Foto: Media sosial.

AMMAN - Mantan putra mahkota Yordania mengatakan dia akan menentang perintah untuk berhenti berkomunikasi dengan dunia luar setelah dia ditempatkan dalam tahanan rumah.

Pangeran Hamzah bin Hussein, (41 tahun), dituduh bekerja dengan "entitas asing" untuk mengacaukan kerajaan. Mantan pewaris takhta menyangkal konspirasi, tetapi dia menuduh para pemimpin Yordania melakukan korupsi dan ketidakmampuan.

BACA JUGA: Pangeran Hamzah Ditangkap, Menlu Yordania Sebut Ada Pihak Asing Terlibat Rencana Kudeta

Pada Minggu (4/4/2021), oposisi Yordania merilis rekaman di mana Pangeran Hamzah yang pemberontak mengatakan dia tidak akan mematuhi perintah.

"Saya tidak ingin bergerak dan meningkatkan situasi sekarang," katanya dalam rekaman audio yang diposting di Twitter.

"Tapi saya tidak akan menurut ketika mereka mengatakan Anda tidak bisa keluar, Anda tidak bisa tweet, Anda tidak bisa berkomunikasi dengan orang (dan) Anda hanya diizinkan untuk melihat keluarga Anda."

"Saya pikir itu agak tidak bisa diterima," tambahnya.

Pangeran Hamzah adalah saudara tiri Raja Abdullah, dan keretakan publik antara keduanya belum pernah terjadi sebelumnya. Ketegangan di dalam rumah tangga kerajaan, bagaimanapun, dilaporkan telah terlihat selama beberapa waktu.

BACA JUGA: Tuduhan Kudeta, Sejumlah Mantan Pejabat dan Anggota Kerajaan Yordania Ditahan

Yordania adalah monarki konstitusional, tetapi bangsawan memainkan peran utama dalam kehidupan publik dan Raja Abdullah memiliki kekuasaan yang luas. Dia dapat menunjuk pemerintah, menyetujui undang-undang dan membubarkan parlemen.

Negara itu juga merupakan sekutu utama Barat, dan laporan penahanan Pangeran Hamzah menimbulkan kekhawatiran bahwa wilayah yang lebih luas dapat menjadi tidak stabil. Namun, kekuatan regional dan sekutu Barat, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, semuanya telah menyuarakan dukungan untuk raja.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini