Kisah Para Lansia Wariskan Keahlian yang Tidak Diajarkan di Sekolah ke 1.000 Anak

Agregasi VOA, · Jum'at 09 April 2021 05:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 18 2391730 kisah-para-lansia-yang-wariskan-keahlian-yang-tidak-diajarkan-di-sekolah-ke-1-000-anak-Q3s3GrMUry.jpg Kakek yang wariskan keahlian kepada anak-anak (Foto: Reuters)

RUSIA - Sebuah program di Rusia yang memungkinkan para lanjut usia (lansia) mewariskan pengetahuan dan keahlian mereka dianggap berhasil dan kini diperluas. Program yang disebut “Grandfather Cannot Teach Wrong” atau “Kakek tidak Pernah Mengajar Hal yang Salah” memungkinkan anak-anak untuk mempelajari keahlian dan permainan yang tidak diajarkan di sekolah.

Di sekolah, anak-anak mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari cara membuat sebuah rumah burung. Namun tidak demikian halnya bagi sejumlah anak-anak yang sedang mengikuti program “Grandfather Cannot Teach Wrong”. Mereka terlihat menyimak petunjuk yang diberikan oleh Sergey Smirnov, seorang pensiunan, dalam membuat sebuah rumah burung.

Smirnov adalah anggota organisasi yang disebut “Grandfather Cannot Teach Wrong” atau kakek tidak pernah mengajarkan hal yang salah, yang berlokasi di Vicguga, kawasan Ivanovo, Rusia. Ide dibalik proyek ini adalah memberi kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

(Baca juga: Pasukan Myanmar Tewaskan 11 Orang, Demonstran Melawan dengan Senpi dan Bom)

Program itu diikuti oleh sekitar 1.000 anak. Beberapa di antaranya berasal dari keluarga yang kurang beruntung secara sosial. Namun di dalam kelas-kelas tersebut, anak-anak dapat bermain, memiliki teman baru atau mempelajari sesuatu yang baru.

Smirnov tinggal jauh dari keluarganya sehingga jarang mendapat kunjungan tamu. Namun ia berharap ada sukarelawan seperti dirinya, yang juga membagikan pengetahuan dan keahliannya, bagi cucu-cucunya yang tinggal di tempat lain.

"Anak-anak saya tinggal di tempat yang jauh, begitu pula cucu-cucu saya. Saya akan mengajar anak-anak di sini. Mungkin ada orang lain yang akan mengajar cucu-cucu saya di sana," harapnya.

Sergey Rodin mengajarkan seni, namun ia juga memiliki kehidupan yang kaya akan pengalaman.

Pada masa pemerintahan Soviet, ia berdinas sebagai tentara di Afghanistan dan mendapat penghargaan. Namun untuk anak-anak ini, ia memilih untuk mengajarkan hal-hal lain yang akan membantu perkembangan mereka.

(Baca juga: Viral! Biawak Raksasa Hebohkan Pengunjung Supermarket)

Rodin mengatakan mereka membuat vas untuk pensil, pulpen, dan bunga-bunga kering. Ini tugasnya, namun ini bukan sekadar membuat vas, tetapi juga melatih perkembangan motorik halus dan daya imajinasi.

Salah seorang siswa, Anna Belousova mengatakan, ia tidak memiliki seorang kakek. Namun ia datang kesana karena kakek Smirnov selalu membantunya.

Sebelum diperbolehkan menjadi sukarelawan, mereka harus melamar melalui sebuah proses pemilihan yang ketat termasuk pemeriksaan catatan kriminal dan kesehatan.

Para pelamar yang menjadi sukarelawan itu memiliki latar belakang yang beragam.

"Sepanjang hidup saya, saya bekerja sebagai perakit mesin di pabrik pembuatan mesin. Saya kemudian pensiun dan menerima sebuah proposal dari proyek “Grandfather Will Not Teach Wrong”. Saya memutuskan untuk mencobanya dan berhasil diterima. Jadi saya merasa senang datang ke tempat ini. Anak-anak menyambut saya dengan gembira, saya merasa senang karena mereka merasa senang,” terang Stanislav Potapov, salah seorang sukarelawan.

Sementara itu, seorang sukeralawan lainnya, Alexander Sykov, sudah merencanakan apa yang akan dilakukannya pada musim panas nanti. "Ketika cuaca menjadi lebih hangat di luar, kami akan mempelajari tentang sepeda. Kemudian saya akan menceritakan tentang mobil-mobil dan kemudian kami akan membuatnya," jelasnya.

Apa yang bisa dipelajari tentang sepeda oleh anak-anak itu"Bagaimana memberi pelumas pada sepeda, membongkar dan merakit sepeda. Saya memiliki pendidikan teknik, jadi saya sangat menguasainya. Saya akan membagikan pengalaman saya, apalagi saya memiliki pengalaman mengemudi selama 40 tahun,” lanjutnya.

Proyek yang berawal sebagai percobaan oleh Pusat Rehabilitasi Sosial di kawasan itu, dianggap sukses. Itu artinya, organisasi tersebut berharap dapat merekrut lebih banyak lagi kakek sukarelawan hingga total menjadi 20 orang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini