Menurutnya, sejak kecil tidak ada yang mempermasalahkan tentang identitasnya sebagai peranakan Tionghoa. Ia beribadah seperti layaknya seorang muslim. Saat bulan puasa juga menjalankan ibadah puasa. Demikian juga saat hari raya Idul Fitri, ia merayakan dengan keluarganya.
"Sampai sekarang tidak ada diskrimasi, baik-baik saja. Saya sehari-hari komunikasi pakai bahasa Jawa," ucapnya.
Ia terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai koki. Ibunya sering dipercaya memasak di acara pesta pernikahan para Tionghoa di Lasem.
"Saya paham kuliner peranakan yang ada di Lasem," ucapnya.
Baca Juga: Kisah Laksamana Majapahit Mpu Nala & Pohon Raksasa Bahan Kapal di Pulau Rahasia
Satu di antara yang paling istimewa dalam hal memasak ibunya adalah masakan bernama serepeh.