Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pilu Sarmini, Urusi Anak Gangguan Pertumbuhan & Suami Sakit di Tengah Kemiskinan

Syamsul Maarif , Jurnalis-Selasa, 13 April 2021 |01:02 WIB
Kisah Pilu Sarmini, Urusi Anak Gangguan Pertumbuhan & Suami Sakit di Tengah Kemiskinan
Foto: Syamsul M
A
A
A

PANGANDARAN - Sarmini (42) menjalani kehidupan yang penuh cobaan. Warga miskin itu harus bertahan hidup mengurusi anak remaja yang divonis mengalami lambat pertumbuhan dan suaminya sakit gagal ginjal.

Sarmini merupakan warga Dusun/Desa Paledah RT 05/02 Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Suaminya, Endang Kusnadi (45) sudah lima bulan mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali. 

Selain itu, Sarmini harus juga mengurus anaknya bernama Ikbal Maulana (19) yang mengidap kelainan fisik sejak lahir dan divonis mengalami keterlambatan pertumbuhan.

Meski Ikbal Maulana sudah berusia 19 tahun, berat badannya hanya 12 Kilogram dan tidak bisa beraktivitas layaknya anak seusianya. Takdir itu harus dijalani Ikbal dengan ikhlas.

Ikbal punya adik bernama Sela yang masih duduk di bangku SMP kelas delapan.

Penuturan Sarmini, Ikbal sempat mengalami kejang sehari setelah dilahirkan. "Sehari setelah lahir Ikbal sering kejang, setelah konsultasi dengan dokter anak dan dokter syaraf divonis lambat pertumbuhan karena ada gangguan syaraf," kata Sarmini, Senin (12/4/2021).

Baca juga: Viral, Satu Keluarga di Cilegon Hidup Satu Gubuk Bersama Belasan Ayam

Pengobatan rutin dijalani setelah lahir, tetapi sampai umur 6 tahun belum ada perubahan. "Kami pasrah mungkin sudah takdir kami seperti ini," ucap Sarmini.

Setiap hari Ikbal hanya makan promina, beras merah dan susu kental manis. Asupan makanan yang lain tidak bisa dia cerna.

"Kami masih beruntung masuk jadi KPM PKH dan mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari Pemerintah Kabupaten Pangandaran," jelasnya. 

Baca juga: Hidup Sebatang Kara Digubuk Reyot, Mbah Tomo Hanya Ditemani Angsa

Sarmini melanjutkan, suaminya dulunya bekerja sebagai kuli serabutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

"Sudah lima bulan suami saya sakit gagal ginjal dan wajib cuci darah satu minggu sekali," ucapnya. 

Sejak suaminya sakit gagal ginjal, sudah tidak ada lagi penjamin untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

"Setiap cuci darah saya harus keluar uang Rp750 ribu hingga Rp1 juta untuk kebutuhan transportasi dan akomodasi," pungkasnya.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement