Curhat Nelayan Korban Badai Seroja: Kapal Rusak, Kini Harus "Berteman" dengan Utang

Adi Rianghepat, Okezone · Rabu 14 April 2021 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 340 2394509 curhat-nelayan-korban-badai-seroja-kapal-rusak-kini-harus-berteman-dengan-utang-fJGRR7P0OZ.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

KUPANG - Terdengar ada sedikit rintihan dari suara tegarnya, kala berbincang dengan media ini, Rabu (14/4/2021). Dialah Abdulah Fauzan, seorang nelayan di Kota Kupang yang terdampak badai siklon seroja, beberapa waktu lalu.

Kapal yang saban waktu dipakainya melaut menangkap ikan, untuk pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga, remuk dihantam badai itu.

"Tak ada lagi yang tersisa. Hanya puing-puing kapal," katanya dengan suara bergetar.

Ayah tiga anak ini tak lagi bisa berbuat banyak. Tak ada lagi penghasilan yang bisa dia setor ke istrinya. "Kami terpaksa utang di kios depan rumah. Hutang sembako," katanya.

Itu harus dilakukan, selain untuk bisa bertahan hidup. Tetapi juga agar dia dan istri serta anaknya bisa tetap menunaikan ibadah puasa.

"Hanya Tuhan yang tahu getirnya kondisi ini. Kami hanya bisa pasrah berdoa di bulan suci ini," katanya. Dia mengaku, sampai saat ini, tak ada satu pun unsur pemerintah yang datang, meskipun hanya sekadar mendata.

"Kami seolah bagian lain dari warga lain yang terdampak dan sudah diintervensi," katanya.

Bantuan apapun belum sampai ke rumahnya. Sembako, tentu juga dibutuhkan. Kebutuhan lain pun demikian. "Rumah saya atapnya hancur," katanya.

Usai berbuka di saat magrib, Abdulah mengaku hanya bisa memandang langit dengan deraian air mata, sambil mendengungkan doa kepada Allah, untuk cobaan yang sedang dia alami.

"Saya tentu tak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa melaut, semoga pemerintah bisa memberikan bantuan kapal agar kami bisa melaut lagi," katanya berharap.

Selain Abdulah, terdapat 150 nelayan lainnya juga bernasib sama. Steven Boger pun punya pengeluhan senada. Sudah menjelang dua pekan, pasca badai berlalu, dia dan ratusan nelayan lainnya tak lagi bisa melaut.

Meskipun demikian, tak ada satu pun pihak, termasuk pemerintah yang datang bertemu untuk tindak lanjutnya. "Padahal dalam posisi seperti ini, kami nelayan kecil hanya butuh perhatian pemerintah. Siapa sangka kami bisa peroleh bantuan apa saja," katanya.

Namun demikian, dia dan ratusan nelayan lainnya hanya bisa pasrah. "Meskipun kami belum tersentuh bantuan pemerintah, namun kami akan tetap menjalani hidup ini. Saya terpaksa harus menjadi buruh untuk bisa penuhi kebutuhan dalam rumah," katanya.

Dia menyebut, ada sekitar puluhan kapal penangkap ikan di perairan itu yang luluh lantak disapu badai seroja. Dari jumlah itu, ada sekitar 150 nelayan yang terdampak sebagai akibat dari bencana tersebut.

"Kami hanya bisa pasrah. Kami sudah berupaya ke kelurahan namun sampai kini belum juga ada respon," katanya.

Memang kata dia, semua bantuan, apapun akan diterima. Namun lebih dari itu, lanjut dia, ratusan nelayan itu butuh bantuan pemerintah agar bisa mendapatkan kapal penangkap ikan yang baru, agar bisa kembali melaut dan ratusan jiwa lainnya di dalam rumah tangga masing-masing nelayan itu bisa diselamatkan.

"Kami butuh kapal tengkapan," katanya berharap.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini