Situasi Makin Tak Kondusif, 200 Warga Indonesia Tinggalkan Myanmar

Agregasi VOA, · Kamis 15 April 2021 07:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 18 2394935 situasi-makin-tak-kondusif-200-warga-indonesia-tinggalkan-myanmar-lbIo4yaMR4.jpg Pengunjuk rasa di KBRI Yangon, Myanmar 24 Februari 2021. (Foto: Dok VOA)

Rafendi berharap KTT ASEAN itu nantinya memiliki dampak yang lebih besar ketimbang dua pertemuan khusus menteri luar negeri ASEAN pada bulan Februari dan Maret lalu, yang juga membahas soal Myanmar.

"Yang kita harapkan pengaruhnya akan lebih besar terhadap perubahan di lapangan, berarti berhentinya kekerasan, yang namanya dialog damai itu bisa dirintis dan dibangun. Konfliknya adalah persoalan legitimasi dari hasil pemilihan umum tersebut. Nggak bisa pemerintahan junta ini dipertahankan terus untuk memegang situasi sementara," ujar Rafendi.

Refendi berharap KTT ASEAN menghasilkan keputusan yang lebih kongkret dan bisa dilaksanakan oleh pemerintah Myanmar sebagai negara berdaulat, dibantu oleh unsur-unsur yang ada di dalam ASEAN. ASEAN bisa membantu dalam hal pengelolaan demonstrasi damai agar tidak terjadi kekerasan, membangun proses menuju dialog, bantuan kemanusiaan.

Menurut Rafendi, yang terpenting adalah pemimpin de facto Myanmar harus menghadiri KTT ASEAN itu. 

Krisis Memburuk, Lebih 700 Orang Tewas

Sejak kudeta militer 1 Februari lalu, lebih dari 700 orang tewas akibat kekerasan berlebihan yang dilakukan aparat keamanan terhadap pengunjuk rasa. Insiden terburuk terjadi Sabtu pekan lalu (10/4) di Kota Bago, sekitar 90 kilometer timur laut Yangon. Menurut kelompok pemantau AAPP (Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik) dan media Myanmar, sedikitnya 82 orang tewas di tangan aparat keamanan Bago. 

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini