TURKI - Presiden perempuan pertama Komisi Eropa merasa "terluka dan terhina “ karena tidak mendapatkan kursi selama pertemuan puncak dengan para pemimpin laki-laki di Turki.
Ursula von der Leyen dibiarkan tanpa kursi pada pertemuan dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan di Ankara pada 6 April lalu.
Kejadian ini pun menuai kritik. Termasuk Presiden Turki dan Presiden Dewan Uni Eropa (UE) Charles Michel, yang sedang duduk di sana. Turki menyalahkan Uni Eropa atas kesalahan yang membuat von der Leyen tidak mendapatkan kursi an harus duduk di sofa, jauh dari pemimpin negara lainnya.
Seperti diketahui, pertemuan itu diatur untuk memperbaiki hubungan yang tegang antara UE dan Turki. von der Leyen dan Michel mengadakan pembicaraan dengan Presiden Erdogan di istana kepresidenannya.
Tetapi ketika ketiga pemimpin itu hendak duduk, hanya ada dua kursi. Michel dan Erdoğan duduk di dua kursi berlapis emas bergaya Ottoman, dan von er Leyen hanya berdiri.
(Baca juga: Polisi Tangkap 30 Anggota Sindikat Mafia Kapak Hitam)
Dalam rekaman pertemuan tersebut, von der Leyen tampak terkejut dna sempat membuat suara “ehem”. Dia akhirnya duduk di sofa, jauh dari pemimpin Turki dan berhadapan dengan menteri luar negeri Turki.
Melalui pidatonya di Parlemen Eropa pada Senin (26/4), von der Leyen menyatakan seksisme adalah akar dari kesalahan tempat duduk, yang dikenal sebagai "sofagate".
Von der Leyen, 62, mengatakan dia tidak melihat alasan mengapa dia harus diperlakukan berbeda dengan Michel. Michel pun dikabarkan telah meminta maaf atas kejadian tersebut.
"Saya wanita pertama yang menjadi Presiden Komisi Eropa. Saya adalah Presiden Komisi Eropa. Dan seperti inilah saya diharapkan diperlakukan ketika mengunjungi Turki dua minggu lalu, seperti Presiden Komisi, tetapi sebenarnya tidak," ungkap von der Leyen kepada anggota parlemen Uni Eropa.
(Baca juga: Pertempuran Sengit Pecah di Perbatasan Myanmar - Thailand)
"Saya tidak dapat menemukan pembenaran atas cara saya diperlakukan dalam Perjanjian Eropa. Jadi, saya harus menyimpulkan, itu terjadi karena saya seorang wanita. Apakah ini akan terjadi jika saya mengenakan jas dan dasi? Dalam gambar pertemuan sebelumnya, saya tidak melihat adanya kekurangan kursi. Tapi sekali lagi, saya juga tidak melihat seorang wanita pun dalam foto-foto ini,” terangnya.
Dalam pidatonya pada Senin (26/4), von der Leyen tidak secara terbuka menyalahkan Erdogan atau Michel atas insiden tersebut.
Tapi dia mengaku merasa "terluka dan ditinggalkan sendiri", sebagai "seorang wanita dan sebagai orang Eropa".
“Karena ini bukan tentang pengaturan tempat duduk atau protokol. Ini adalah inti dari siapa kita. Ini mengacu pada nilai-nilai yang diperjuangkan Serikat kita. Dan ini menunjukkan seberapa jauh kita masih harus melangkah sebelum perempuan diperlakukan setara,” lanjutnya.
Dia mengatakan dirinya menggunakan pertemuan itu untuk mengungkapkan "keprihatinan mendalam" tentang penarikan diri Turki dari Konvensi Istanbul, sebuah kesepakatan internasional yang dirancang untuk melindungi perempuan.
Dia menegaskan melindungi perempuan dari kekerasan akan tetap menjadi "prioritas" untuk Komisi "- cabang eksekutif UE.
Sementara itu, saat berbicara kepada parlemen, Michel kembali menyatakan penyesalannya atas situasi tersebut, yang menurutnya telah menyinggung banyak wanita. Dia juga mengatakan kepada anggota parlemen bahwa hubungan ekonomi yang lebih dalam dengan Turki sulit karena memburuknya hak-hak dasar dan kebebasan di Turki, termasuk perempuan.
Insiden ini pun sempat dibandingkan dengan pertemuan di Brussel pada 2017 lalu. Pada kesempatan itu, kedua orang yang memimpin Komisi dan Dewan Eropa duduk di samping presiden Turki di kursi berlengan yang nyaman.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.