Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bertemu Gatot Nurmantyo, La Nyalla: Saya Ingin Satukan Semua Elemen Masyarakat

Haryudi , Jurnalis-Sabtu, 08 Mei 2021 |14:06 WIB
Bertemu Gatot Nurmantyo, La Nyalla: Saya Ingin Satukan Semua Elemen Masyarakat
Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti bertemu Gatot Nurmantyo dan Rizal Ramli (Foto: Haryudi)
A
A
A

JAKARTA - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyatakan keinginannya untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat. Hal tersebut harus dilakukan untuk mengawal perjalanan bangsa.

"Posisi saya bukan oposisi, tapi saya ingin menyatukan semua elemen masyarakat Indonesia, untuk bersama-sama mengawal perjalanan bangsa ini. Karena tugas DPD RI adalah menyatukan kekuatan semua stakeholder," katanya dalam dialog antartokoh bangsa di Sekolah Insan Cendekia Madani, Serpong, Jumat 7 Mei 2021.

Baca Juga:  Atasi Problem Sampah, Ketua DPD RI Minta Daerah Bangun PSEL

Menurut LaNyalla, pemerintah perlu dikawal agar tetap menahkodai biduk bangsa dengan arah yang jelas. Selain itu, agar pemerintah tidak semakin berjarak dengan rakyat.

"Saya setuju, harus ada koreksi. Harus ada pikiran yang wajib disampaikan kepada pemerintah. Karena rakyat merasa ada paradoksal antara apa yang diregulasikan pemerintah, dengan apa yang dilakukan pejabat negara," ujarnya.

LaNyalla juga menekankan pentingnya menyatukan kekuatan dan potensi bangsa dalam satu irama langkah menuju tujuan hakiki lahirnya bangsa. Para tokoh tersebut membahas dengan hangat soal Presidential Threshold atau ambang batas pencalonan Presiden. Mereka menganggap Presidential Threeshold membatasi demokrasi. Karena dengan ambang batas yang sekarang, tidak akan mungkin muncul banyak calon presiden.

"Yang namanya demokrasi itu harusnya semua orang diberi kesempatan. Inilah inkonsistensi kita. Indonesia berharap akan lebih baik dengan demokrasi tetapi dengan presidential threeshold 20 persen ini namanya membatasi demokrasi itu sendiri," ujar MS Ka'ban.

Saat ini, ambang batas pencalonan presiden adalah 20 persen suara nasional atau disetarakan dengan 25 persen perolehan kursi parlemen. "Dengan ambang batas 20 persen yang ada akhirnya seperti kemarin. Hanya 2 calon yang bisa diusung. Partai besar menjadi dominan, partai kecil ikut," ujar Bachtiar Chamsah.

Baca Juga:  Dampak Pandemi Covid-19, Ketua DPD RI Usul Pajak Kendaraan Didiskon

Adanya ambang batas 20 persen, menurut Ubedillah Badrun memunculkan oligarki ekonomi dan politik yang membuka ruang transaksi pragmatis. "Akhirnya sulit hadirkan Presiden yang berkualitas. Karena cukong-cukong yang berperan. Orang yang baik pun akan dikangkangi oleh mereka ini," jelas pengamat politik UNJ itu.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement