JADI pengamen, penunggu WC, pengangkut pasir dan tukang tambal ban adalah sejumlah pekerjaan yang pernah dilakukan MT Aroji AT.
Ia kini telah memiliki 3 bisnis, dari jual beli pabrik, punya pabrik sepatu, dan membangun pesantren di tanah seluas 10 hektare.
Masa kecil Aroji memang perih. Ia adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga petani di Tangerang. Ayahnya menginginkannya menjadi seorang kiai, hingga akhirnya setamat SMP ia dikirim ke sebuah pesantren di Pabelan. Hanya bertahan dua tahun ia nyantri, kemudian keluar karena faktor biaya.
“Orangtua saat itu sebulan mengirim uang Rp16 ribu. Rp12 ribunya dipakai untuk bayaran, sisanya untuk beli sabun dan peralatan sekolah lainnya. Karena tak cukup, saya memutuskan untuk keluar,” ucap pria kelahiran tahun 1965 ini.
Pilihanya itu tentu berisiko. Untuk bertahan hidup ia harus menjadi pengamen dari bis ke bis di daerah Yogyakarta. Selain itu ia juga pernah menjadi penunggu WC di sekitar Candi Borobudur. Lalu menjadi tukang kuli angkut pasir untuk renovasi Borobudur.
“Hasilnya lumayan bisa buat makan. Dapat uang Rp50-100 ribu rupiah saya sudah senang. Pikir saya yang penting bisa bertahan hidup. Suatu ketika tak sengaja saya bertemu dengan tetangga yang tinggal di Tangerang, akhirnya saya dibawa pulang,” ujar Aroji.
Baca Juga : Misteri Kerangka Tentara Korban Letusan Gunung Vesuvius 2000 Tahun Silam
Tiba di Tangerang, ia pun meneruskan studi SMA-nya yang tertunda. Tamat SMA ia belajar bisnis dengan mengikuti jejak sang nenek yang menjual limbah plastik dari pabrik-pabrik sekitar tempat tinggalnya.
“Saya kebetulan rada jago dalam hal menaksir harga, akhirnya saya diangkat menjadi karyawan di sebuah pabrik. Hanya bertahan dua tahun kemudian keluar lagi,” katanya.
Tahun 1991 ia menikah. Bermula dari situ ia berkomitmen untuk mulai mandiri. Beragam pencerahan pun mulai berdatangan. Dengan modal satu juta rupiah hasil meminjam, ia mulai berbisnis beli plastik yang kemudian dipacking dan dikirim ke pabrik pengolahan daur ulang.
“Modalnya tidak banyak, itu pun memang hasil dari meminjam ke orang. Bisnis model itu terus saya jalankan hingga beberapa tahun. Perkembangannya cukup bagus,” ungkapnya.