Karena keanehan itulah, banyak orang datang meminta berkah. Atau, meramal nasib dengan cara mengangkat batu itu untuk coba mencari peruntungan. Namun, harus lewat tata cara ritual. Pertama, minta izin sang juru kunci untuk mengantar membukakan pintu batu bobot.
Sebab, pintu itu selalu tertutup demi menjaga keamanan benda peninggalan Sunan Kalijaga. Para peziarah akan diberi petunjuk cara mengucapkan doa.
Kedua, peziarah harus punya tujuan khusus ziarah (tidak sekadar coba-coba). Sebaiknya mereka juga membawa bunga telon (mawar, cempaka, kenanga) sebagai syarat ritual agar batu itu memiliki khasiat magis.
Sambil menabur bunga, peziarah harus duduk dalam posisi bersila (bagi pria), dan dua kaki ditekuk (bagi perempuan) seraya mengucapkan doa dan berserah diri kepada Sang Maha Pencipta. Lalu, batu itu diangkat.
“Bila cocok maka batu akan terasa lebih ringan dari 20 kilogram. Sebaliknya, bila tidak cocok, batu akan terasa berat. Bahkan, kadang tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Ada beberapa kemungkinan. Mungkin, persyaratan kurang lengkap. Atau, peziarah tidak punya tujuan khusus, dan kurang konsentrasi dalam memanjatkan doa. Percaya atau tidak, terserah masing-masing individu,” ujarnya.
Baca Juga : Kisah Jenazah Syekh Siti Jenar Berbau Wangi dan Wajahnya Bercahaya
Hingga kini, telah ada tujuh keturunan yang bertindak sebagai juru kunci Mrapen. Perawatan sumber api abadi ini dilakukan sejak masa Kesultanan Demak Bintoro.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.