Share

Malaysia Lockdown Total, Warga Khawatir Bisnis Hancur, TKI Terdampak

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 02 Juni 2021 06:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 18 2418681 malaysia-lockdown-total-warga-khawatir-bisnis-hancur-tki-terdampak-Ruk9VLeQRw.jpg Malaysia lockdown total (Foto: Reuters)

MALAYSIA - Malaysia mulai Selasa (01/06) menerapkan karantina wilayah (lockdown) di penjuru negeri demi memerangi pandemi Covid-19 yang kasusnya kembali melonjak.

Walau khawatir dengan bertambahnya kasus baru, warga Malaysia pun khawatir pemberlakuan lockdown yang berlangsung selama dua pekan ini bisa berdampak negatif bagi usaha mereka.

Bahkan pejabat keuangan Malaysia pun mengisyaratkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negerinya tahun ini bisa menurun akibat pemberlakuan lockdown.

Seperti dikutip Reuters, pemerintah pada Selasa (01/06) mengumumkan kasus baru covid sebanyak 7.105 sehingga total infeksi di Malaysia tercatat sudah 579.462 kasus.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia saat ini termasuk yang paling parah dihantam pandemi. Dari hampir 2.800 kasus kematian akibat Covid di negara berpenduduk 32 juta jiwa itu sejak pandemi dimulai, lebih dari 40% terjadi pada bulan Mei 2021.

Selain akibat munculnya varian-varian baru, lonjakan kasus itu diduga sebagai dampak dari banyaknya warga yang berkumpul selama bulan suci Ramadan dan masa libur Idul Fitri Mei lalu, selain kasus-kasus pelanggaran protokol Covid lainnya.

(Baca juga: Wartawan Ini Wawancara Sambil Berhubungan Seks, Sang Ayah Puji Sangat Keren)

Itu sebabnya pihak berwenang Malaysia terpaksa menerapkan lockdown total mulai Selasa 1 Juni di hampir semua sektor sosial dan ekonomi. Hanya tempat-tempat penting yang boleh buka, seperti supermarket dan klinik medis, sedangkan hampir semua sekolah tutup.

  • TKI tak bekerja

Walau ada seruan agar lebih diperketat, lockdown dua pekan ini dipandang akan memukul banyak sektor usaha yang selama ini berjuang mati-matian untuk tetap bertahan selama pandemi.

"Pandemi virus corona bagi usaha kecil seperti saya ini menimbulkan kehancuran," kata Lilian Chua, warga yang memiliki usaha salon di pinggir kota Kuala Lumpur. Kini usahanya harus tutup.

"Pemerintah menerapkan lockdown, tapi virusnya ada di udara, maka vaksinasi perlu dipercepat," kata perempuan 42 tahun itu kepada AFP.

Penasihat Persatuan Pekerja Rumah Tangga Migran Indonesia, Nasrikah mengatakan bagi tenaga keja dari Indonesia (TKI), karantina ini semakin menyulitkan mereka.

(Baca juga: 16 Pesawat 'Mencurigakan', Malaysia Akan Keluarkan Nota Protes dan Panggil Dubes China)

"Banyak pekerja migran yang tidak boleh bekerja, karena pemerintah Malaysia hanya membolehkan untuk sektor essential saja," katanya kepada BBC News Indonesia pada Selasa (01/06).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Baru sehari lockdown, kami sudah menerima banyak permintaan sembako. Karena sebelum lockdown kali ini, sebelumnya Malaysia sudah membuat MCO yang mana banyak majikan pekerja migran tidak bekerja," imbuhnya.

MCO merujuk pada Perintah Kawalan Pergerakan sebagai upaya mengendalikan virus corona.

Saat ini, tidak sampai 6% dari total populasi di Malaysia yang sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin covid.

Pertumbuhan ekonomi bisa turun

Menteri Keuangan Tengku Zafrul Abdul Aziz mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Malaysia pada 2021 bisa menurun akibat kebijakan lockdown karena usaha-usaha non-esensial tidak boleh beroperasi.

Namun, untuk saat ini dia tidak menyajikan angka berapa banyak penurunan proyeksi itu.

Dia juga mengatakan bahwa defisit fiskal Malaysia kemungkinan akan naik lebih dari 6%, yang merupakan batas maksimal yang sebelumnya ditetapkan.

Pemerintah telah mengumumkan anggaran belanja hampir satu miliar dolar untuk mengatasi dampak ekonomi dari lockdown.

Penularan Covid-19 di Malaysia sebenarnya masih di bawah level negara-negara yang mengalami infeksi terparah.

Namun lonjakan kasus baru-baru ini membuat pemerintah jadi waspada karena angka kenaikannya bisa lima kali lipat lebih tinggi ketimbang data di awal tahun ini.

Kemudian unit-unit perawatan intensif di rumah-rumah sakit sudah hampir penuh, pemerintah terpaksa menerapkan lockdown selama dua pekan mendatang.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini