Serukan Semangat Nasionalisme, 900 Pemuda Ikuti Gebyar Wawasan Kebangsaan

Fitria Dwi Astuti , Okezone · Kamis 03 Juni 2021 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 03 1 2419407 serukan-semangat-nasionalisme-900-pemuda-ikuti-gebyar-wawasan-kebangsaan-DGTTgCpMzY.jpeg Foto: Dok Lemhannas

Jakarta – Serukan semangat nasionalisme, 900 pemuda ikuti Gebyar Wawasan Kebangsaan secara daring dengan mengangkat tema #GuePancasila. Kegiatan webinar ini diselenggarakan oleh Lemhannas RI dalam upaya mendekatkan generasi milenial dan generasi Z dI seluruh Indonesia dengan Pancasila.

Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo mengatakan karena anak milenial umumnya dekat dunia digital maka, pendekatannya pun melalui digital.

Tak hanya itu, dalam kegiatan webinar ini bertujuan membumikan Pancasila di tengah derasnya informasi di dunia maya.

“Pancasila di tengah arus globalisasi ini harus ‘menginjak bumi’ agar maknanya lebih mendalam bagi para generasi milenial ini,” tuturnya.

Menurutnya, anak-anak milenial ini sudah pintar berselancar ke dunia maya mencari literasi dan sudah punya pikiran sendiri untuk masa depan mereka.

Dalam menanamkan nilai-nilai luhur, pemuda saat ini tidak membutuhkan jargon tentang Pancasila tapi implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat diperlukan sebab Pancasila tidak diterima begitu saja dari para pendiri bangsa, tapi perlu diperjuangkan.

“Seperti yang pernah diucapkan Khalil Gibran, yang akan melesat ke depan adalah anak-anak, generasi muda, penerus bangsa. Generasi kami yang lebih dulu ada akan fade away,” ujarnya sambil tertawa.

Agus mencermati bahwa generasi muda saat ini memiliki tantangan yang berbeda dengan generasi masa lampau.

“Kita perlu mencermati perbedaan itu dan bagaimana menanganinya. Kalau dulu dikatakan hapalan, bacaan, sekarang ini dituntut ada implementasi dan praktik,” ucapnya.

Akan tetapi praktik itu harus diperkaya dengan pengetahuan dan membaca literatur yang sudah ada.

“Aneh kalau seorang WNI tidak hapal urutan Pancasila. Tantangan ini akan memberikan tantangan pada generasi tersebut karena diberikan kebebasan mengakses infonrmasi secara bebas dan independen, sementara kalau dulu terpusat,” katanya.

Anak muda sekarang ini mempunyai peluang sebagai generasi yang akan melesat ke masa depan dan kinerja kontribusinya akan dinilai di masa depan.

“Kita juga perlu melihat jangan mengambil asumsi bahwa apa yang kita lihat dan baca sekarang itu berbentuk final dari gagasan-gagasan yang sering kita bicarakan. Jangan berhenti pada kritik dan jangan kita bekerja untuk mengkritik mencari kesalahan, tetapi bagaimana solusinya,” katanya.

Agus sangat mendambakan generasi depan itu sebagai generasi yang mempunyai entitas moral dan etika, entitas intelektual.

“Selalu ingin mencari yang terbaik dan bagaimana seharusnya, kritis terhadap itu. Seringkali kita larut dalam diskusi-diskusi mainstream, sangat jarang untuk mendapatkan kontribusi-kontribusi konstruktif untuk bisa mencoba mengatasi apa yang kita hadapi hari ini,” tuturnya.

Indonesia menaruh harapan besar pada generasi milenial agar dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila. Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada era internet dengan pola komunikasinya sangat terbuka dibanding generasi sebelumnya dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi.

Sherly Annavita Rahmy, sosok pemuda yang menjadi tamu dalam acara itu memaparkan pendidikan adalah kunci paling ampuh untuk mengubah banyak hal. Hal ini akan menjadi kemampuan pemuda dalam menyaring informasi apa saja yang mereka terima. Dia setuju juga berpikir kritis lebih diutamakan bagi pemuda dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi saat ini, misalnya isu toleransi.

“Semua informasi yang diterima dari sosial media, harus disaring, difilter, mana yang logis dan tidak,” kata kreator konten asal Lhokseumawe Aceh ini.

Sherly juga mengatakan para pemuda Indonesia harus memiliki kemampuan critical thinking. Selama ini anak muda sering terekspose intoleransi atau terpapar di hilir.

"Artinya critical thinkingnya ga jalan, asalnya dari mana,” tuturnya.

Menurutnya ada dua pemicu intoleransi di pemuda, yaitu pertama dari provokator atau muncul dari akun anonim, yang kedua berasal dari latar belakang yang tidak jelas.

Sherly kembali mengingatkan pemuda bahwa Pancasila adalah perekat bangsa. Pada kesempatan tersebut, Sherly menyampaikan puisi yang mengajak pemuda untuk menjadikan Pancasila sebagai panduan bagi para Pemuda.

“Pancasila adalah rumah kita bersama, bahwa Pancasila ini bukan alat untuk memukul. Dia adalah alat untuk merangkul. Pancasila ini bukan alat untuk menuduh, dia alat untuk memperteguh. Pancasila ini bukan alat untuk membuat gaduh, dia alat untuk membuat suasana menjadi teduh. Pancasila bukan alat untuk menyerang yg berbeda pandangan politik, dia alasan kita untuk bergandengan tangan dengana asyik. Yang justru di dalam rumah Pancasila kita semua ini justru perbedaan itu adalah kekuatan,” ucapnya.

Oleh karena itu, Lemhannas mengambil andil dalam upaya mendekatkan anak milenial dengan Pancasila. Caranya mengajak ngobrol dengan mereka melalui daring dan mempertemukan anak milenial dari seluruh Indonesia. Dalam sehari, generasi pemuda bisa mengakses internet 8 sampai 13 jam. Untuk itu penggunaan sosial media sebagai alat sosialisasi Pancasila yang efektif sudah mulai perlu dilakukan.

Pada dasarnya anak milenial pada umumnya sudah lekat dengan dunia digital, maka pendekatannya pun melalui era digital. Lembaga ini ingin ngobrol langsung dengan anak-anak milenial ini, sebenarnya apa yang ada di benak mereka tentang Pancasila. Acara yang dihelat pada Rabu, 2 Juni 2021, pukul 09.00 s.d. 12.00 WIB, tersebut menghadirkan narasumber terkemuka, di antaranya, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo Gubernur Lemhannas RI, sejarawan Anhar Gonggong, dan Digital Creator Social Media Influencer Sherly Annavita Rahmi.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu membangkitkan semangat yang menggebu-gebu pada generasi milenial untuk terus berkarya demi masa depan Indonesia. Sehingga generasi milenial mampu memperkokoh NKRI dalam menghadapi segala bentuk tantangan, ancaman, hambatan, gangguan persaingan global untuk ketahanan nasional.

CM

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini