Mengapa Korut Larang Bahasa Gaul, Jeans, dan Film Asing yang Digambarkan Sebagai 'Racun Berbahaya'?

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 08 Juni 2021 07:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 18 2421688 mengapa-korut-larang-bahasa-gaul-jeans-dan-film-asing-yang-digambarkan-sebagai-racun-berbahaya-1D2Qj5jcvp.jpg Ilustrasi keluarga Korut menonton acara Korsel (Foto: BBC)

Sayangnya, BBC tidak bisa memverifikasi informasi ini. Itu karena Kim sedang berada dalam perang yang tidak melibatkan senjata nuklir atau rudal.

Analis mengatakan dia berusaha menghentikan informasi dari luar yang menjangkau orang-orang Korea Utara, sebab kehidupan di negara itu kini kian semakin sulit.

Jutaan orang diperkirakan akan mengalami kelaparan. Kim ingin memastikan mereka diberi makan propaganda negara yang dibuat dengan hati-hati, daripada mendapatkan sekilas kehidupan mewah yang digambarkan dalam K-drama - sebutan untuk drama-drama dari Korea Selatan - yang berlatar belakang di selatan perbatasan kedua negara di Seoul, salah satu kota terkaya di Asia.

Negara itu kini semakin terisolasi dari dunia luar setelah menutup perbatasannya tahun lalu dalam responsnya menghadapi pandemi. Pasokan kebutuhan dasar dan perdagangan dari negara tetangga China, hampir terhenti. Meski sebagian pasokan sudah mulai terpenuhi, impor masih terbatas.

Isolasi yang dipaksakan sendiri ini telah memperburuk ekonomi yang sudah gagal di mana uang di negara itu banyak disalurkan ke ambisi rezim terhadap nuklir. Awal tahun ini, Kim sendiri mengakui bahwa rakyatnya menghadapi "situasi terburuk yang harus kita atasi".

  • Apa yang dikatakan aturan itu?

Daily NK adalah media pertama yang mendapatkan salinan regulasi tersebut.

"Dinyatakan jika seorang pekerja tertangkap, kepala pabrik dapat dihukum, dan jika seorang anak bermasalah, orang tua juga dapat dihukum. Sistem pemantauan bersama yang didorong oleh rezim Korea Utara secara agresif tercermin dalam undang-undang ini, " kata pemimpin redaksi Daily NK, Lee Sang Yong, kepada BBC.

Dia mengatakan ini dimaksudkan untuk "menghancurkan" mimpi atau daya tarik yang mungkin dimiliki generasi muda tentang Korea SelatanSelatan.

"Dengan kata lain, rezim menyimpulkan bahwa rasa perlawanan bisa terbentuk jika budaya dari negara lain diperkenalkan," katanya.

Choi Jong-hoon, salah satu dari sedikit pembelot yang berhasil keluar dari negara itu pada tahun lalu, mengatakan kepada BBC bahwa "semakin sulit masanya, semakin keras peraturan, undang-undang, hukumannya".

"Secara psikologis, ketika perut Anda penuh dan Anda menonton film Korea Selatan, itu mungkin untuk bersantai. Tetapi ketika tidak ada makanan dan itu adalah perjuangan untuk hidup, orang menjadi tidak puas,” ujarnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini