Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

"Kapal Beracun" Berbendera Singapura Sebabkan Bencana Lingkungan

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 12 Juni 2021 |04:36 WIB
Kapal berbendera Singapura mulai tenggelam (Foto: EPA/BBC Indonesia)
A
A
A

PADA awal Juni, kapal kargo yang mengangkut bahan kimia terbakar di laut lepas Sri Lanka yang berpotensi menyebabkan bencana lingkungan selama puluhan tahun mendatang di negara itu, lapor wartawan BBC, Ranga Sirilal dan Andreas Illmer.

Kapal itu terbakar selama berhari-hari di lepas pantai Sri Lanka. Asap hitam pekat mengepul yang dapat dilihat dari jarak yang jauh dari lokasi kapal.

Namun, kapal yang diberi nama X-Press Pearl itu sudah setengah tenggelam, lambung kapal berada di dasar laut. Walaupun kobaran api telah padam, berbagai persoalan baru mengemuka.

Baca Juga:  Disetujui WHO, Singapura Akhirnya Izinkan Penggunaan Vaksin Covid-19 Sinovac

Di atas kapal terdapat tumpukan peti kemas. Banyak peti kemas itu menyimpan bahan kimia yang amat berbahaya bagi lingkungan, bahkan sebagian sudah bocor ke laut dan memunculkan kekhawatiran bahan kimia itu mungkin meracuni kehidupan laut.

Di samping itu, berton-ton pelet plastik telah hanyut ke sejumlah pantai setempat. Tak hanya itu, ratusan ton bahan bakar untuk mesin disimpan di badan kapal yang tenggelam itu dan mungkin berisiko bocor ke laut.

Selain ancaman terhadap lingkungan, masyarakat setempat juga terancam bahaya, misalnya para nelayan.

"Kami adalah nelayan kecil-kecilan dan melaut setiap hari. Kami hanya bisa mendapatkan penghasilan jika kami menangkap ikan- jika tidak seluruh anggota keluarga kami akan kelaparan," kata seorang nelayan, Denish Rodrigo, kepada BBC.

Miliran pelet plastik

Satu hal yang menonjol jika mencermati foto-foto dari kecelakaan kapal ini adalah adanya butiran-butiran kecil plastik yang membentang hampir sejauh mata memandang. Pelet plastik ini digunakan untuk membuat hampir semua produk plastik.

"Terdapat 46 bahan kimia berbeda-beda di kapal itu," kata Hemantha Withanage.

Ia adalah aktivis lingkungan dan pendiri lembaga Pusat Keadilan Lingkungan di ibu kota Sri Lanka, Colombo. "Tetapi yang paling kelihatan sejauh ini adalah berton-ton pelet plastik."

Sejak akhir Mei, butiran-butiran plastik dari kapal X-Press Pearl terhanyut ke pantai-pantai di Negombo. Ditemukan pula ikan-ikan mati yang perut kembung dipenuhi pelet plastik sementara sebagian butiran plastik menyangkut di bagian insang.

Baca Juga:  Kampong Lorong Buangkok, Kampung Terakhir di Singapura yang Mencoba Bertahan

Plastik memerlukan waktu antara 500 hingga 1.000 tahun untuk terurai dan kemungkinan besar mudah terbawa arus ke pantai-pantai di Sri Lanka bahkan ke tempat-tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari lokasi kapal karam.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement