Dia kembali malam ini dan melaporkan bahwa dia berbau sangat busuk di sana, yang tidak mengherankan, karena Belanda tidak akan menemukan, untuk menguburkan mereka, mayat-mayat itu ditinggalkan di sawah dan di rerumputan tinggi.
Waktu Opziener van vogelnestklippen (Inspektur Tempat Sarang Burung Walet) di Pantai Kidul di Rongkob- Paulus Daniel Portier alias Nur Salim ditangkap oleh pasukan Diponegoro di Pacitan pada Juni 1826 - dan dibawah ke markas DN di Kulon Progo pada bulan Agustus-September 1826 , dia menemukan banyak sekali keluarga di Kulon Progo yang kehilangan bapak dan anak lelaki dalam pertempuran Plered yang baru terjadi.
Walau sebagian besar pertempuran yang dialami Kapten Errembault de Dudzeele et d'Orroir (1789-1830) hanya berskala kecil, terdapat dua pertempuran yang jauh lebih mengesankan. Yang pertama adalah ketika ia berpartisipasi dalam sebuah serangan fajar terhadap pertahanan Diponegoro di Plered, pada tanggal 9 Juni 1826.
Ini adalah baptis api baginya dalam Perang Jawa dan dia terlibat sebagai seorang komandan infanteri untuk 900 prajurit Belanda dan Jawa (kebanyakan dari Legiun Mangkunegaran) dalam serangan langsung terhadap benteng keraton yang terbuat dari bata yang dibangun pada medio abad ke-17.
Setelah tembakan terakhir dilepaskan dan bayonet terakhir ditusukkan pada jam tiga sore, kemungkinan sekitar 700 orang Jawa yang mempertahankan benteng tersebut gugur.
Walau sudah berpengalaman selama bertahun-tahun berperang di Eropa (1806-15) pada masa Perang Napoleon, bahkan Errembault pun mengakui bahwa pertempuran ini adalah sebuah “pembantaian besar-besaran yang mengerikan (un carnage affreux)” (Errembault 1825-30, 9 Juni 1826).
(Sazili Mustofa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.