JAKARTA - Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Lasem di sela-sela kesibukannya biasanya ke warung kopi.
Hanya minum secangkir kopi dan satu batang rokok, orang Lasem bisa berjam-jam nongkrong di warung. Anehnya bagi penjual kopi di Lasem semua itu tidak menjadikan masalah.
Warung kopi menyediakan papan catur yang dengan waktu tanpa batas. Bahkan ada salah satu warung kopi di Lasem , orang datang ngopi sambil main catur dari pagi sampai sore. Terkadang dari sore main catur sampai warung kopi kembali tutup. Itu pun hanya memesan satu cangkir kopi.
Satu di antara keluarga penjual kopi tertua di Lasem yang sampai sekarang masih menekuni usahanya adalah warung kopi Tayib di desa Ngemplak Kejuron, jalan Kajar.
Warung kopi ini terkenal dengan sebutan warung kopi Tayib. Nama Tayib di ambil dari pemilik warung. Dulu pada tahun 1926 sudah berprofesi sebagai penjual kopi di daerah Dasun.
Baca juga: Kisah Perang Lasem Lawan VOC, Panji Margono Gugur Perutnya Disabet Pedang
"Warung tersebut melayani para pekerja pembuat kapal. Namun setelah Belanda meninggalkan kota Lasem, pabrik galangan kapal tutup, keadaan menjadi sepi akhirnya warung kopi pindah di Ngemplak," ujar Koh Lam, penggiat sejarah Lasem, Rabu (30/6/2021).
Dulu pada tahun 1970-an warung kopi Tayib masih dikelola istrinya yang bernama Nyik Ri.
Kopi Wak Tayib sangat ramai dengan sajian menu khasnya ketan nasi uduk dan tempe goreng sebagai lauknya.
Baca juga: Tradisi Mendirikan Telur Peh Cun di Lasem yang Mulai Langka
"Agak aneh di warung Nyik Ri pembeli dibatasi, misal ada orang beli sebungkus ketan atau nasi uduk satu, maka tempenya harus satu tidak boleh mengambil dua atau lebih,"ucapnya.
Dulu warung kopi Tayib buka mulai fajar sampai sore hari, keadaan warung tidak pernah sepi pembeli. Sampai sekarang warung kopi Tayib masih buka diteruskan oleh cucunya.
Selain warung kopi legendaris itu, di Lasem juga dikenal istilah kopi lelet.
Suatu ketika sekitar tahun 1960-an awal di saat santai ngopi, Wak Mudi iseng mencoreng-coreng batang rokoknya dengan memakai letekan atau sisa ampas kopi ke batang rokoknya.
Ia ditegur oleh mbah Jarum salah satu temannya asal desa Tulis. “Lho Mud… rokok kok mok leleti letekan kopi iku karepmu piye?.... (lho rokok kok kamu leleti ampas kopi, itu bagaimana?)".
Wak Mudi membalas dengan tertawa.
Begitu seterusnya, setiap hari setiap ngopi rokok selalu dilelet dengan sisa kopi dan tidak disangka kebiasaan itu ditiru oleh pemuda dan orang tua saat itu .
Hal itu berlanjut terus menerus hingga sampai sekarang bahkan sampai saat ini .
"Kebiasaan ngelelet rokok menjadi ngetrend di masyarakat kota Lasem bahkan sudah menyebar di luar kota Lasem," ungkapnya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.