NAMA Borobudur pertama kali ditulis dalam buku Historybif Java karya Sir Thomas Stamford Raffles. Ia menulis mengenai monumen bernama Borobudur.
Naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Negarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Beberapa buku mengupas tentang sejarah dan seluk beluk Borobudur seperti Barabudur, De Boro-Boedoer, atau Die –Budha Legende.
Ilmuwan yang meneliti tentang candi Borobudur adalah Agus Arismunandar dari UI. Ia banyak menulis tentang candi Borobudur dan bicara di berbagai seminar.
Sejarahwan Dr. Soekmono dalam buku ‘Candi Borobudur- Pusaka Budaya Umat Manusia’, Jakarta: Pustaka Jaya (1978) menuliskan bahwa nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro).
Baca juga: Kisah Bung Karno-Fidel Castro Bertukar Topi dan Kopiah
Kebanyakan candi memang sering kali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.
Berdasarkan prasasti karang tengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Candi itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudhawardani.
Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M.
Baca juga: Kisah Tragis Ibunda Gajah Mada Meninggal Bunuh Diri
Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana.
Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.
Sejarawan JG. De Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan.