Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Pernikahan Soeharto-Ibu Tien, Tanpa Cinta-cintaan dan Digelar secara Darurat

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 06 Juli 2021 |07:05 WIB
Cerita Pernikahan Soeharto-Ibu Tien, Tanpa Cinta-cintaan dan Digelar secara Darurat
Soeharto-Ibu Tien (Ist)
A
A
A

JAKARTA - Presiden kedua Indonesia Soeharto diminta menikah oleh kerabatnya. Pasalnya, usianya yang sudah terbilang cukup bahkan lebih untuk membina rumah tangga.

Siti Hartinah atau yang dikenal sebagai Ibu Tien pada akhirnya yang menjadi jodoh Pak Harto.

Orang tua Siti Hartinah, yakni Pak Soemoharjomo dan Ibu Hatmanti ternyata bersedia menerima Soeharto. Setelah Ibu Prawiro mendapatkan seseorang yang bertindak lebih dahulu sebagai perantara.

Maka kemudian upacara “nontoni”, pertemuan antara yang akan melamar dan yang dilamar; dilangsungkan. Agak kikuk juga sebab sudah lama Soeharto tidak melihat Hartinah yang dikenal sebagai Ibu Tien dan keragu-raguan masih ada pada Soeharto, apakah dia akan benar-benar suka kepada saya.

"Dalam pada itu saya ingat, sudah ada pertanda baik, yakni mereka semua suka menerima kami. Itu artinya lampu hijau bagi kami. Ternyata pula suasana dalam upacara, 'nontoni' itu baik sekali sehingga tidak diperlukan waktu lama, untuk kemudian langsung merundingkan soal waktu," demikian penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

“Ini rupanya benar-benar jodoh saya,” pikir Soeharto.

Dan jodoh itu sama seperti lahir dan ajal, menurut orang tua-tua kita. Kemudian Soeharto tahu bahwa sewaktu kami berkunjung ke rumah mereka itu, Hartinah baru saja sembuh dari sakit selama sebulan.

Perkawinan mereka dilangsungkan pada tanggal 26 Desember 1947 di Solo, pada waktu Soeharto berusia 26 tahun dan Hartinah, sang istri, dua tahun lebih muda darinya.

Dari tempat tugas Soeharto di Yogya, dia naik sebuah kendaraan dinas tua menuju Solo. Soeharto mengenakan pakaian penganten, serapi-rapinya untuk waktu yang tidak tenang itu. Sebilah keris terselip di punggungnya. Waktu akan naik kendaraan itu, terasa bukan main repotnya. Sulardi yang mengantar Soeharto, mengganggunya sepanjang jalan.

"Perkawinan kami dilangsungkan pada sore hari dengan disaksikan oleh keluarga dan teman-teman Hartinah. Cukupan banyaknya, sebab keluarga Pak Soemoharjomo cukup terpandang dan disegani di kota ini," jelas dia.

Dari pihak Soeharto hadir Sulardi dan kakaknya. Tetapi kejadian yang bagi Soeharto amat penting ini sayang tak ada yang mengabadikannya dengan potret. Maklumlah, keadaan serba darurat.

Baca Juga : Ini Dia Sosok Bocah yang Dulu Tanya ke Soeharto "Kenapa Presiden Cuma 1?"

Malam harinya diadakan selamatan, tetapi cuma bisa dengan memasang beberapa buah lilin, karena kota Solo waktu itu harus digelapkan, di waktu malam, mencegah terjadinya bahaya besar jika Belanda melakukan serangan udara lagi.

Tiga hari sesudah perkawinan, Soeharto boyong istri ke Yogya. Soeharto harus kembali menjalankan tugas militer saya. Dan kemudian sang istri mulai dengan tugasnya sebagai istri Komandan Resimen. Dunia baru baginya, sekalipun sebelum ini ia giat dalam Palang Merah, dekat dengan barisan-barisan pejuang.

Alhasil, perkawinan mereka tidak didahului dengan cinta-cintaan seperti yang dialami oleh anak muda di tahun delapan puluhan sekarang ini. Kami berpegang pada pepatah “witing tresna jalaran saka kulina”, datangnya cinta karena bergaul dari dekat.

Dalam pada itu, Soeharto sudah punya pegangan untuk mendayung perahu keluarga di tengah-tengah bahtera yang luas. Sebagai suami-istri, sepatutnya kita mempunyai cita-cita mendapatkan keturunan yang baik.

Dan salah satu syarat untuk itu adalah adanya ketentraman di tengah kehidupan bersuami istri itu. Ketentraman itu sebenarnya adalah saling pengertian antara suami dan istri. Tanpa saling mencintai, saling mengerti, tak akan ada kebahagiaan di rumah.

Dan kebahagiaan hidup antara suami-istri itu tidak hanya untuk kedua orang itu, melainkan termasuk kewajibannya untuk menurunkan keturunan sebagai kodrat orang hidup yang percaya kepada Tuhan Yang Maha kuasa. Bahwasanya suka terjadi cekcok antara suami dan istri, itu adalah manusiawi. Tetapi percekcokan itu bukan sesuatu untuk dibiarkan menjadi sebab perpecahan, melainkan untuk mengoreksi satu sama yang lain, saling mengendapkan diri dan bukan untuk menjadi berantakan.

Baca Juga : Cerita Soeharto Sebelum Lamar Ibu Tien: Apa Dia Mau?

Dengan pegangan itu mereka berlayar di atas perahu keluarga mereka. Dan mereka kemudian dititipi enam anak, yakni tiga laki-laki dan tiga perempuan.

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement