Selasa sore (6/7), Retno dan Lavrov akan memimpin pertemuan para menteri luar negeri ASEAN dengan Rusia.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menyambut baik semua kerjasama internasional untuk pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia, termasuk kerjasama dengan Rusia.
Menurut Amin, vaksin Sputnik ini berbeda dengan vaksin yang sudah dipakai di Indonesia seperti Sinovac maupun AstraZeneca.
Vaksin Sputnik, kata Amin, menggunakan dua jenis virus yang berbeda artinya pada suntikan pertama vaksin ini menggunakan adenovirus 26 dan pada suntikan kedua menggunakan adenovirus 5. Sementara Sinovac dan AstraZeneca hanya menggunakan satu jenis virus.
“Adeno virusnya kan hidup, nah kalau sudah disuntik pertama kemudian tubuh subjek itu membentuk antibodi terhadap vector virus itu maka pada suntikan kedua mungkin tidak efektif karena virus vektornya akan diserang oleh antibodi yang terbentuk oleh suntikan pertama,” terangnya.
“Oleh karena itu, mereka menyiasati pada suntikan pertama mereka menggunakan adenovirus tipe 26 dan pada suntikan kedua mereka menggunakan adeno virus tipe 5. Jadi berbeda. Itu bagus artinya untuk lebih menjamin bahwa respon antibodinya bisa lebih baik,” ungkap Amin.
Ketika ditanya apakah vaksin Sputnik ini lebih ampuh dibanding vaksin Sinovac dan AstraZeneca, Amin mengatakan hal itu harus diuji terlebih dahulu.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.