Menlu RI dan Menlu Rusia Sepakat Kerjasama Produksi Vaksin Sputnik V

Agregasi VOA, · Rabu 07 Juli 2021 05:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 18 2436662 menlu-ri-dan-menlu-rusia-sepakat-kerjasama-produksi-vaksin-sputnik-v-rduoK2J7ys.jpg Menlu RI Retno Marsudi dan Menlu Rusia Sergey Lavrov (Foto: Reuters)

JAKARTA Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sepakat memperkuat kerjasama kedua negara, termasuk dalam bidang kesehatan. Hal ini menjadi agenda penting saat Retno menerima kunjungan Lavrov di kantornya di Jakarta, Selasa (6/7).

Dalam jumpa pers bersama secara virtual usai pertemuan, Retno menjelaskan dalam pertemuan tersebut dia dan Lavrov membahas penguatan kerjasama bilateral Indonesia-Rusia untuk jangka pendek dan panjang di sektor kesehatan.

"Untuk (kerjasama kesehatan) jangka pendek, tentu saja isunya mengenai penyediaan vaksin, penyediaan obat-obatan terapeutik dan diagnostik tetap menjadi prioritas. Rusia menyampaikan komitmennya untuk memperkuat kerjasama jangka pendek ini," kata Retno.

Retno menekankan semua kerjasama dalam penanggulangan pandemi Covid-19 ini akan dilakukan sesuai dengan aturan dan pedoman dari otoritas kesehatan kedua negara dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

(Baca juga: Varian Delta 8 Kali Kurang Peka terhadap Antibodi yang Dihasillkan Vaksin)

Dia menambahkan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito bulan lalu telah berkunjung ke Rusia untuk secara langsung meninjau fasilitas pembuatan vaksin Sputnik V.

Sejak pandemi COVID-19 merebak pada Maret tahun lalu, lanjut Retno, Indonesia dan Rusia bekerjasama dengan erat untuk menangani pandemi tersebut. Isu ini menjadi bahasan utama dalam pembicaraan telepon antara Presiden Joko Widodo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Maret 2020.

Retno mencontohkan Rusia telah menyumbangkan obat anti virus Covid-19 dan peralatan medis kepada Indonesia. Retno mengatakan kerjasama Indonesia-Rusia di bidang kesehatan ini akan semakin diperkuat dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara kedua negara yang sedang dalam tahap finalisasi.

Kesepakatan itu nantinya akan menjadi dasar kerjasama untuk jangka menengah dan jangka panjang termasuk rencana produksi vaksin bersama antara Indonesia dan Rusia.

(Baca juga: Akhiri Penantian Selama 40 Tahun, Peneliti Inggris Mulai Uji Vaksin HIV)

Di sektor ekonomi, Retno menyebutkan Indonesia dan Rusia tadinya menargetkan nilai perdagangan bilateral sebesar USD5 miliar (Rp72 triliun) pada 2020. Namun sasaran itu tidak tercapai karena ada pandemi Covid-19.

Pada pertemuan dengan Lavrov ini, Retno mendorong Rusia untuk berinvestasi di Indonesia terutama di bidang infrastruktur, infrastruktur digital, layanan kesehatan, dan logistik.

Selain itu, menurut Retno, dirinya dan Lavrov juga membahas persiapan menyambut lawatan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia, tapi jadwalnya belum bisa dipastikan.

Dalam keterangan pers bersama itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Retno membahas penguatan kerjasama bilateral dalam berbagai isu, seperti seperti keamanan, perdagangan, investasi, dan kemanusiaan.

“Kami sedang dalam tahap finalisasi deklarasi kemitraan strategis. Saya berharap kedua pemimpin kita segera bertemu dan menandatangani dokumen penting ini," ujar Lavrov.

Lavrov mengatakan Rusia dan Indonesia bertekad untuk mengintensifkan perdagangan bilateral termasuk memperluas hingga ke produk-produk berteknologi mutakhir.

Rusia dan Indonesia juga akan memperkuat kerjasama di sektor-sektor yang menjanjikan, seperti energi, minyak dan gas, transportasi, infrastruktur, teknologi komunikasi dan informasi.

Selasa sore (6/7), Retno dan Lavrov akan memimpin pertemuan para menteri luar negeri ASEAN dengan Rusia.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menyambut baik semua kerjasama internasional untuk pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia, termasuk kerjasama dengan Rusia.

Menurut Amin, vaksin Sputnik ini berbeda dengan vaksin yang sudah dipakai di Indonesia seperti Sinovac maupun AstraZeneca.

Vaksin Sputnik, kata Amin, menggunakan dua jenis virus yang berbeda artinya pada suntikan pertama vaksin ini menggunakan adenovirus 26 dan pada suntikan kedua menggunakan adenovirus 5. Sementara Sinovac dan AstraZeneca hanya menggunakan satu jenis virus.

“Adeno virusnya kan hidup, nah kalau sudah disuntik pertama kemudian tubuh subjek itu membentuk antibodi terhadap vector virus itu maka pada suntikan kedua mungkin tidak efektif karena virus vektornya akan diserang oleh antibodi yang terbentuk oleh suntikan pertama,” terangnya.

“Oleh karena itu, mereka menyiasati pada suntikan pertama mereka menggunakan adenovirus tipe 26 dan pada suntikan kedua mereka menggunakan adeno virus tipe 5. Jadi berbeda. Itu bagus artinya untuk lebih menjamin bahwa respon antibodinya bisa lebih baik,” ungkap Amin.

Ketika ditanya apakah vaksin Sputnik ini lebih ampuh dibanding vaksin Sinovac dan AstraZeneca, Amin mengatakan hal itu harus diuji terlebih dahulu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini