Share

India Terancam Covid-19 Gelombang Ketiga Usai Warga Berbondong-bondong Penuhi Tempat Wisata

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 14 Juli 2021 13:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 14 18 2440458 india-terancam-covid-19-gelombang-ketiga-usai-warga-berbondong-bondong-penuhi-tempat-wisata-GxoX1hsSrR.jpg Tempat wisata di India dipenuhi pengunjung (Foto: BBC)

INDIA - Sebuah organisasi dokter di India telah memperingatkan bahwa gelombang ketiga Covid-19 di negara itu tidak dapat dihindari karena pembatasan sosial yang dilonggarkan di seluruh negeri.

Perdana Menteri Narendra Modi juga telah memperingatkan terhadap kerumunan pengunjung di lokasi-lokasi wisata di India.

Foto dan video turis yang berbondong-bondong ke tujuan wisata populer menjadi viral dalam beberapa hari terakhir.

Video menunjukkan sebagian besar dari mereka tidak mengenakan masker atau menjaga jarak sosial di tempat umum.

Laporan dari media-media setempat mengungkapkan ribuan orang kini kembali mengunjungi tempat-tempat wisata perbukitan (hill station) di India, sehingga memicu kekhawatiran penyebaran virus.

(Baca juga: Pria Ini Cari Anaknya Selama 24 Tahun dan Naik Motor Sejauh 500.000 Km)

"Saya mengatakan dengan sangat tegas bahwa tidak baik sampai terjadi kerumunan di tempat-tempat wisata, pasar, tanpa pakai masker," kata Modi dalam cuitan di Twitter. Dia menyadari bahwa industri pariwisata telah mengalami pukulan hebat akibat pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown.

Kasus baru harian di India telah turun menjadi lebih dari 40.000 dalam beberapa pekan terakhir, turun dari puncaknya, yakni sekitar 400.000 kasus pada bulan Mei.

Penurunan jumlah sebagian besar disebabkan oleh lockdown ketat di sejumlah negara bagian, tapi kebijakan itu sekarang dilonggarkan.

(Baca juga: Inggris Akan Bekerja Sama dengan Taliban Jika Kuasai Afghanistan)

Meski demikian. para ahli khawatir India dapat berada pada risiko gelombang infeksi ketiga karena baru sekitar 6% dari populasi yang memenuhi syarat yang telah divaksinasi sepenuhnya.

Sementara itu, baru sekitar 22% yang telah menerima setidaknya satu dosis.

Asosiasi Kedokteran India (IMA), sebuah organisasi yang mewakili dokter di India, pada Senin (12/7) mengatakan "rasanya menyakitkan untuk mencatat bahwa baik pemerintah dan masyarakat sudah berpuas diri dan mengadakan pertemuan massal tanpa mengikuti protokol Covid".

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

"Kegiatan turis, travel ziarah, semangat keagamaan semuanya dibutuhkan, tapi bisa menunggu beberapa bulan lagi," kata IMA.

Ia menambahkan bahwa membuka tujuan-tujuan ini dan membiarkan orang-orang yang tidak divaksinasi berkumpul dalam pertemuan besar adalah "super spreader yang potensial untuk gelombang ketiga Covid".

India baru saja keluar dari gelombang kedua yang mematikan.

Kala itu, rumah sakit dan krematorium yang kewalahan dipenuhi dengan orang mati.

Saat ini, beberapa negara bagian telah dibuka dan mengizinkan kegiatan turisme dan pertemuan keagamaan.

Tetapi para ahli khawatir tentang dampak dari pertemuan-pertemuan ini.

Pada April lalu, jutaan orang berkumpul di kota Himalaya Haridwar untuk berpartisipasi dalam festival Kumbh Mela, bahkan ketika beberapa kota bergulat dengan kekurangan oksigen dan langkanya tempat tidur di rumah sakit.

Beberapa orang - yang datang dari seluruh penjuru negeri - dinyatakan positif pada hari-hari berikutnya.

Sekarang, pihak berwenang di negara bagian Uttar Pradesh bersiap untuk mengadakan festival Kanwar Yatra tahunan mulai 25 Juli.

Para ahli mengatakan bahwa India perlu menegakkan protokol kesehatan secara ketat dan lebih mempercepat laju vaksinasi untuk menghindari gelombang ketiga.

India memvaksinasi sekitar empat juta orang setiap hari, tetapi perlu 8-9 juta vaksinasi per hari untuk mencapai target vaksinasi semua orang di atas usia 18 pada akhir tahun ini.

Beberapa negara bagian juga tak memiliki cukup vaksin. Pada Selasa (13/7), beberapa pusat vaksinasi publik di Delhi ditutup setelah mereka kehabisan vaksin.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini