Covid-19 Bukan Buatan Manusia, 22 Ilmuwan Ini Beri Penjelasan Ilmiah

Agregasi Sindonews.com, · Senin 19 Juli 2021 07:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 18 2442655 covid-19-bukan-buatan-manusia-22-ilmuwan-ini-beri-penjelasan-ilmiah-JYGm11Uxig.jpg Virus Covid-19 (Foto: Reuters)

BEIJING - Sebanyak 21 ilmuwan China dan seorang ahli Inggris yang bekerja di China telah berhasil membuktikan melalui penggunaan teori evolusi klasik jika virus Covid-19 bukanlah produk buatan manusia melainkan berasal dari lingkungan alam.

Hal ini dimuat dalam artikel "Asal usul SARS-CoV-2-Argumen pembuat jam buta" yang diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dari majalah akademik "SCIENCE CHINA: Life Sciences" yang disponsori bersama oleh Chinese Academy of Sciences dan the Chinese Academy of Sciences.

Penulis utama artikel tersebut, Prof. Wu Zhongyi dari Institut Ilmu Kehidupan Universitas Sun Yat-sen, mencatat bahwa ada pandangan yang diterima secara luas, bahwa evolusi spesies bukanlah tujuan khusus.

Karena suatu spesies hanya mampu beradaptasi dengan alam secara alami maka tidak mungkin “diproduksi”. Sebaliknya ia perlu beradaptasi secara bertahap untuk hidup di alam untuk jangka waktu yang lama, dan sering mengalami perubahan acak.

(Baca juga: Siapa Saja WNI yang Naik Haji Tahun Ini?)

Prof. Wu mengatakan Covid-19 sebagai virus “sempurna” pasti merupakan hasil evolusi alam karena sehebat apa pun seorang ilmuwan belum tentu mampu “menciptakan” virus yang dapat beradaptasi dengan manusia dalam kondisi sempurna.

Misalnya, operator telepon seluler paling bergengsi dan berpengalaman tidak akan mampu menghasilkan desain produk paling populer di dunia pada tahap awal.

Faktanya, produk “sempurna” hanya dapat muncul setelah melalui pengujian pasar dan penggunaan berulang.

(Baca juga: Paus Fransiskus: Istirahat dan Matikan Ponsel)

Beberapa hasil penelitian secara tidak langsung telah membuktikan kebenaran pandangan tersebut. Sebenarnya tikus tidak terinfeksi Covid-19, namun para ilmuwan mengambil langkah untuk menemukan varian yang dapat menginfeksi tikus.

Namun, varian yang dipilih manusia ini tidak dapat memicu transmisi massal pada sekelompok tikus.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini