Polisi Selidiki Pelecehan Seksual Anak-Anak di Sekolah Asrama

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 28 Juli 2021 08:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 18 2447082 polisi-selidiki-pelecehan-seksual-anak-anak-di-sekolah-asrama-J67t7eAGqw.jpg Ilustrasi pelecehan seksual terhadap anak (Foto: Shutterstock)

KANADA - Polisi Kanada mengatakan mereka telah menghabiskan lebih dari satu dekade menyelidiki tuduhan pelecehan seksual di bekas sekolah asrama untuk anak-anak pribumi.

Sekolah Fort Alexander yang didanai pemerintah di Manitoba adalah salah satu dari lusinan lembaga semacam itu yang didirikan untuk mengasimilasi anak-anak pribumi secara paksa.

Selama bertahun-tahun, para aktivis dan penyintas telah menuduh pelecehan sistematis di sekolah tersebut, yang ditutup pada tahun 1970.

Polisi pada Selasa (27/7) mengungkapkan mereka telah meluncurkan penyelidikan kriminal pada 2011.

Cabang Manitoba dari Royal Canadian Mounted Police (RCMP) membuat komentar langka tentang penyelidikan yang sedang berlangsung setelah penyelidikan dari outlet media lokal.

Sebagai bagian dari pencarian mereka untuk mencari calon korban, polisi mengatakan mereka telah berbicara dengan lebih dari 700 orang. Akhirnya, sebanyak 75 keterangan saksi dan korban diperoleh sejak penyelidikan dimulai.

(Baca juga: Batu Permata Terbesar di Dunia Ditemukan di Halaman Belakang Rumah, Ditaksir Seharga Rp1,4 Triliun)

Hingga saat ini, belum ada tuntutan pidana yang diajukan, karena bukti masih diperiksa.

RCMP mengatakan privasi para korban, tersangka dan saksi dihormati sangat ‘penting’.

Kepala Derrick Henderson dari Sagkeeng First Nation - komunitas yang paling terpengaruh oleh penyelidikan - mengatakan bahwa pelanggaran privasi tidak hanya akan menyebabkan trauma lebih lanjut bagi semua orang yang terlibat, tetapi juga berpotensi membahayakan penyelidikan yang sangat sensitif ini.

Sekolah asrama yang dikelola pemerintah di Kanada adalah bagian dari kebijakan untuk mencoba mengasimilasi anak-anak dan menghancurkan budaya dan bahasa asli.

Lebih dari 150.000 anak-anak First Nations, Métis dan Inuit diambil dari keluarga mereka dan ditempatkan di sekolah tempat tinggal antara 1874 dan 1996.

(Baca juga: Iran Tahan Agen Mata-Mata yang Bekerja untuk Israel, Sita Sejumlah Senjata)

Kebijakan tersebut membuat trauma generasi anak-anak pribumi, yang dipaksa untuk mengadopsi agama Kristen, meninggalkan bahasa asli mereka dan berbicara bahasa Inggris atau Prancis.

Pada Mei lalu, penemuan 215 kuburan tak bertanda di dekat Kamloops Indian Residential School membawa perhatian baru pada babak kelam sejarah Kanada ini.

Pada bulan-bulan berikutnya, jumlah kuburan tak bertanda di seluruh negeri meningkat menjadi lebih dari 1.300.

Pada Juli lalu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyebut kebijakan asimilasi "sangat berbahaya".

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini