Ketika Ikan Kecanduan Sabu-Sabu

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 01 Agustus 2021 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 01 18 2449096 ketika-ikan-kecanduan-sabu-sabu-N3gflhjG8y.jpg Ikan trout yang kecanduan sabu-sabu (Foto: Wikimedia Commond)

CEKO - Residu narkoba yang dikonsumsi manusia mempengaruhi alam liar. Ikan yang pernah terpapar metamfetamin lebih menyukai air yang mengandung sabu-sabu daripada air bersih.

Sekitar 269 juta orang di seluruh dunia menggunakan narkoba setiap tahun.

Yang sering dilupakan dalam cerita ini adalah masalah biologi dasar. Apa yang masuk ke dalam tubuh harus keluar.

Akibatnya, saluran pembuangan dibanjiri dengan obat-obatan yang dikeluarkan dari tubuh, bersama dengan komponen kimia rusak yang memiliki efek serupa dengan obat itu sendiri.

Instalasi pengolahan limbah tidak menyaring hal-hal ini, karena memang tidak pernah dirancang untuk itu. Banyak limbah yang tidak diolah juga mengalir ke sungai dan perairan pantai.

Begitu berada di alam, obat-obatan dan produk sampingannya dapat mempengaruhi satwa liar.

Dalam sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Biology, para peneliti di Republik Ceko menyelidiki bagaimana metamfetamin, narkoba yang makin banyak penggunanya di seluruh dunia, dapat mempengaruhi ikan trout coklat liar.

(Baca juga: Gawat! Gelombang Panas Sebabkan Lapisan Es Greenland Mencair)

Mereka memeriksa apakah konsentrasi metamfetamin, yang disebut juga dengan istilah sabu-sabu di Indonesia, dan salah satu produk sampingannya, amfetamin (dari penelitian lain yang telah mengukur konsentrasi obat terlarang di saluran air), dapat dideteksi di otak ikan trout coklat.

Mereka juga mencari tahu apakah konsentrasi ini cukup untuk menyebabkan ikan kecanduan.

Ikan trout diberi obat dan ditempatkan dalam tangki besar selama delapan minggu dan kemudian pasokan obatnya dihentikan secara tiba-tiba, dan mereka dimasukkan dalam tangki bebas obat selama 10 hari.

Selama waktu itu, para peneliti menguji preferensi ikan terhadap air tawar atau air yang mengandung metamfetamin dan membandingkannya dengan respons ikan yang tidak pernah terpapar obat tersebut.

(Baca juga: Kota di China Ini Dilanda Covid-19 Delta di Tengah Pemulihan Bencana Banjir)

Temuan mereka sangat menarik. Ikan yang terpapar metamfetamin lebih menyukai air yang mengandung narkoba. Adapun ikan yang tidak terpapar tidak punya preferensi seperti itu.

Para peneliti juga menemukan bahwa selama periode penghentian obat, ikan trout yang terpapar metamfetamin bergerak lebih sedikit. Para peneliti menafsirkan ini sebagai tanda kecemasan atau stres, serupa seperti saat manusia berhenti mengkonsumsi narkoba.

Kimia otak ikan yang terpapar juga berbeda dari yang tidak terpapar, dan beberapa perubahan bahan kimia otak terdeteksi sesuai dengan apa yang terlihat dalam kasus kecanduan pada manusia.

Bahkan setelah efek perilaku berkurang setelah 10 hari stop obat, penanda di otak ini masih ada. Ini menunjukkan bahwa paparan metamfetamin dapat memiliki efek jangka panjang, mirip dengan apa yang terlihat pada manusia.

Mengapa kita harus peduli kalau ikan trout kecanduan narkoba? Ada beberapa alasan.

Jika ikan trout "menikmati" obat-obatan terlarang, seperti yang terlihat dalam penelitian baru-baru ini, ikan-ikan ini mungkin bisa cenderung berkeliaran di sekitar pipa tempat limbah dibuang.

Ikan dapat berperilaku serupa dengan apa yang terlihat pada manusia yang menderita kecanduan, tidak hanya dari percobaan ini, tetapi dari beberapa penelitian pada spesies ikan yang berbeda.

Salah satu ciri kecanduan narkoba adalah hilangnya minat pada aktivitas lain, bahkan aktivitas yang biasanya membuat kita sangat termotivasi, seperti makan atau bereproduksi.

Ada kemungkinan bahwa ikan mulai mengubah perilaku alaminya, menyebabkan masalah makan, perkembangbiakan, dan, pada akhirnya, kelangsungan hidup mereka.

Mereka mungkin, misalnya, lebih kecil kemungkinannya untuk menghindari pemangsa.

Paparan narkoba tidak hanya mempengaruhi ikan itu sendiri, tetapi juga keturunannya. Pada ikan, kecanduan dapat diwariskan selama beberapa generasi.

Implikasinya bisa berdampak jangka panjang bagi ekosistem, bahkan jika masalahnya sudah diperbaiki sekarang.

Studi ini bukan yang pertama menemukan obat-obatan terlarang di satwa liar. Pada 2019, para ilmuwan di Inggris melaporkan kokain dalam udang air tawar di semua 15 sungai yang mereka ambil sampelnya. Menariknya, mereka lebih sering mendeteksi obat-obatan terlarang daripada beberapa obat-obatan umum.

Efek lebih luas dari obat-obatan tersebut sebagian besar masih belum diketahui. Namun, ada studi komprehensif tentang efek obat-obatan di sungai.

Obat-obatan tidak sepenuhnya terurai di tubuh kita dan hingga tiba di pabrik pengolahan air limbah dalam tinja dan urin. Sebagian besar dibuang dengan limbah air limbah, tetapi beberapa masuk ke sungai dengan cara merembes dari tempat pembuangan sampah atau ladang pertanian di mana kotoran manusia digunakan sebagai pupuk.

Satwa liar yang hidup di sungai dan perairan pantai di mana limbah dibuang terkena koktail obat-obatan, dari obat penghilang rasa sakit hingga antidepresan.

Ikan yang dikurung di hilir beberapa instalasi pengolahan air berubah jenis kelamin dari jantan menjadi betina dalam beberapa minggu karena paparan bahan kimia pengubah hormon yang ditemukan dalam pil kontrasepsi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa antidepresan dapat menyebabkan berbagai perubahan perilaku pada organisme air mulai dari agresi, ketertarikan pada cahaya, dan peningkatan keberanian.

Kecanduan narkoba adalah masalah kesehatan global yang dapat menghancurkan komunitas, dan mengatasi konsekuensi lingkungan akan memakan biaya yang mahal. Satu studi memperkirakan akan menelan biaya lebih dari USD50 miliar (Rp723 triliun) untuk meningkatkan instalasi pengolahan air limbah di Inggris dan Wales agar dapat menghilangkan bahan kimia ini.

Tampaknya jelas bahwa obat resep dan obat-obatan terlarang yang dirancang untuk mengubah perilaku manusia juga mengubah perilaku satwa liar. Namun masalah ini berpotensi jauh lebih luas dan kompleks.

Kita bahkan tidak tahu apakah bahan kimia sintetis dalam produk rumah tangga sehari-hari, seperti kosmetik, pakaian dan bahan pembersih, dapat mempengaruhi perilaku manusia dan spesies lainnya. Sekelompok ilmuwan internasional telah mendesak perusahaan dan badan pengatur untuk memeriksa efek toksik mereka terhadap perilaku sebagai bagian dari penilaian risiko bahan kimia baru.

Jika kita ingin mengatasi jumlah obat-obatan di saluran air kita, ada banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan penyaringan di instalasi pengolahan limbah, dan untuk memaksa perusahaan air mengambil lebih banyak tanggung jawab dan memastikan limbah tidak mempengaruhi satwa liar

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini