Percepat Vaksinasi Covid-19 ASEAN, Indonesia Dorong Mekanisme Berbagi Dosis

Antara, · Senin 02 Agustus 2021 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 02 18 2449713 percepat-vaksinasi-covid-19-asean-indonesia-dorong-mekanisme-berbagi-dosis-2E5Ykxn1Nm.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia mendorong skema berbagi dosis vaksin (dose-sharing) untuk mempercepat vaksinasi Covid-19 di negara anggota ASEAN. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Senin (2/8/2021).

“Perlunya dijajaki kemungkinan pengaturan dose-sharing mechanism untuk mempercepat vaksinasi di negara-negara ASEAN,” kata Menlu Retno dalam keterangan pers virtual tentang pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting/AMM), Senin.

BACA JUGA: Indonesia Desak Myanmar Segera Setujui Penunjukan Utusan Khusus ASEAN

Sebelumnya pada Juni, Menlu Retno menyoroti kesenjangan distribusi dan vaksinasi Covid-19 antara negara maju dan negara berkembang.

Dalam paparannya, Retno menyebutkan bahwa vaksinasi Covid-19 di Asia Tenggara baru sebesar 8,91 persen dari total populasi. Sebagai perbandingan, kawasan Amerika Utara telah memvaksin 64,33 persen dari total jumlah penduduk dan Eropa telah memvaksin 52,85 persen dari populasinya.

Untuk meningkatkan upaya pengadaan vaksin Covid-19, Sekretaris Jenderal ASEAN menyoroti penggunaan Dana Tanggapan Covid-19 ASEAN (the Covid-19 ASEAN Response Fund), melalui kontribusi dari negara anggota serta beberapa negara mitra.

BACA JUGA: Indonesia Negara dengan Vaksinasi Covid-19 Tertinggi di Asean, Erick Thohir Belum Puas

“Indonesia telah memberikan kontribusi kepada Covid-19 ASEAN Response Fund,” kata Retno menegaskan.

Kesepakatan menggunakan dana bersama untuk pengadaan vaksin Covid-19 telah dicapai saat pertemuan para pemimpin ASEAN di Jakarta, April lalu.

Sebagai ketua ASEAN tahun ini, Brunei Darussalam mengatakan masing-masing negara anggota diharapkan memberi kontribusi sebesar USD100.000 (sekira Rp1,43 miliar) kepada Covid-19 ASEAN Response Fund.

Dalam AMM ke-54 yang berlangsung virtual pada 2-6 Agustus 2021 itu Indonesia juga mengingatkan bahaya kebijakan diskriminatif terhadap jenis vaksin yang digunakan oleh negara dunia sebagai syarat dalam perjalanan.

“Indonesia mengingatkan bahwa pengakuan terhadap vaksin hendaknya selalu menggunakan referensi yang diberikan oleh WHO,” kata Retno, merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia.

Pernyataan Menlu Retno disampaikan menyusul laporan sejumlah negara, di antaranya Singapura dan Arab Saudi, yang tidak mengakui vaksin Covid-19 Sinovac buatan China, yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Padahal, vaksin yang dikembangkan menggunakan metode virus yang dilemahkan itu telah mengantongi izin penggunaan darurat dari WHO sejak 1 Juni 2021 dengan efikasi 65,3 persen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini