Pandemi Covid-19 Menjerat Warga Jadi Mangsa Rentenir

Agregasi VOA, · Selasa 03 Agustus 2021 06:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 18 2449925 pandemi-covid-19-menjerat-warga-jadi-mangsa-rentenir-2SA6dpa9qk.jpg Keluarga di Malaysia jadi mangsa rentenir (Foto: Reuters)

MALAYSIA - Di seluruh dunia, pandemi Covid-19 menyebabkan bisnis bangkrut dan pengangguran. Di Malaysia, orang yang terdesak kebutuhan uang tunai untuk keluarga dan bisnis, malah menjadi korban rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga sangat tinggi.

Noradhiah dan Shahirah, bukan nama sebenarnya, cemas menghadapi ancaman penagih utang. Mereka berutang setara hampir USD1.000 (Rp14 juta).

Masalah mereka dimulai beberapa bulan lalu setelah meminjam sekitar USD4.000 (Rp58 juta) dari orang yang mereka kira adalah badan yang resmi memberi pinjaman uang. Setelah mengembalikan lebih dari dua kali lipat jumlah utang, mereka terus ditagih. Ketika mereka menolak membayar, rentenir itu mengancam merusak rumah mereka sehingga membuat kedua wanita itu stress.

“Kurang tidur, tidak nafsu makan, selalu cemas, dan bahkan berat badan saya turun,” kata Shahirah.

Dalam setahun ini, organisasi nonpemerintah, Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia, setiap hari menerima sekitar 25 kasus baru korban rentenir, yang meminta bantuan. Jumlah itu naik 30% dari sebelum pandemi.

(Baca juga: Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan di Turki hingga Yunani)

Ketua Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia Nadzim Johan mengatakan saat ini adalah situasi yang membuat putus asa dan frustrasi.

(Baca juga: Presiden Afghanistan Umumkan Rencana Keamanan Lawan Taliban, Janjikan Perbaikan dalam 6 Bulan)

Orang-orang dengan beragam kelas ekonomi menjadi korban rentenir, setelah meminjam kurang dari USD100 (Rp1,4 juta) sampai lebih dari USD1 juta (Rp14 miliar). Pada kontrak tertera bunga mulai kurang dari 10% per bulan. Tetapi dalam syarat dan ketentuan, yang ditulis dengan huruf sangat kecil, disebutkan bahwa bunga itu bisa naik hingga lebih dari 10% per minggu ditambah biaya tambahan. Kalau korban tidak mau membayar, rentenir terkadang merusak rumah dan mobil atau bahkan mengerahkan ‘tukang pukul.’

“Mereka menggunakan rasa takut untuk menagih utang, menekan sekuat mungkin, supaya bisa mendapat sebanyak mungkin,” tambah Nadzim.

Noradhiah dan Shahirah meminta bantuan Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia karena sadar bahwa mereka berada dalam jerat utang dan sangat ingin bebas. “Berapa pun yang kami bayar, tidak akan cukup. Mereka terus menagih, meminta lagi. Mereka akan menghitung, menyebut angka, dan meminta kami membayar,” imbuh Shahirah.

Untuk membantu korban keluar dari jerat itu, Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia biasanya membujuk rentenir agar menerima 25 hingga 50% dari jumlah yang mereka minta.

Noradhiah dan Shahirah mampu mengakhiri mimpi buruk mereka dengan membayar sekitar USD250 (Rp3,6 juta) dari tagihan USD1.000 (Rp14 juta). Mereka berdua menyadari seharusnya meminjam dari bisnis yang sah. Ini adalah pil pahit yang harus mereka telan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini