Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cetak Sejarah, Porter Perempuan di Machu Picchu: Kami Diberi Kesempatan Akhiri Diskriminasi

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Senin, 09 Agustus 2021 |17:57 WIB
Cetak Sejarah, Porter Perempuan di Machu Picchu: Kami Diberi Kesempatan Akhiri Diskriminasi
Para perempuan pertama bekerja di Inca Trail pada 2017. (Foto: Evolution Treks Peru)
A
A
A

DALAM kegelapan malam di sebuah kamar sempit yang berlokasi di Desa Sakral milik Suku Inca di Peru, Sara Qquehuarucho Zamalloa mengepak tasnya, pikirannya berkecamuk: Apa cuaca akan baik-baik saja?

Apakah anggota timnya ramah? Apa ia akan bertemu penjaga taman nasional dengan tabiat yang buruk terhadap perempuan? Apa ibunya, yang sakit parah, akan baik-baik saja ketika ia pergi?

Perempuan itu menyingkirkan bermacam pikiran yang berkecamuk di benaknya.

BACA JUGA: Peninggalan Bangsa Inca, Keajaiban Dunia Baru

Ia berangkat keesokan paginya sebagai asisten pemandu di Inca Trail, jalur terjal menuju kuil Inca yang terkenal di Machu Picchu, yang dibangun di abad ke-15.

Ia menyukai pekerjaannya, penghasilan yang ia terima dari tugas sebagai asisten pemandu bisa untuk membayar lebih dari apa pun dari pekerjaan sebelumnya.

Selain itu, mungkin yang paling penting, pekerjaan itu memberdayakannya dalam masyarakat patriarki Peru.

Ia paham bahwa ia bisa melalui Inca Trail - baik secara fisik maupun mental - sebagai pemandu, dan itu membuatnya merasa seperti bisa mencapai apa pun yang ia inginkan.

'Saya ingin mengubah ketidakadilan' 

Zamalloa memeriksa berulang kali untuk memastikan ia membawa kartu identitas pemandunya dan botol minumannya. Ia juga memastikan tasnya tidak terlalu berat (tiap kilogram sangat berharga dalam pengembaraan ini).

BACA JUGA: Kisah Perjuangan Ribuan Wanita yang Disterilisasi Paksa hingga Tak Bisa Punya Anak

Zamalloa kemudian pamit kepada ibunya yang berada di kamar lain di rumah itu. Ia menyisipkan sejumlah uang kepada ibunya, menyadari bahwa peran mereka telah berubah sejak kecil.

Ia kemudian beranjak ke kamarnya lagi dan tidur nyenyak selama enam jam. Ia selalu tidur lelap pada malam sebelum perjalanan.

Cita-cita Zamalloa, sebagai seorang bocah yang lahir dan besar di desa San Martin, yang terletak di pegunungan di atas hutan Amazon, adalah menjadi asisten administrasi, pekerjaan yang di Peru akan membuatnya di tempatkan di kantor yang didominasi para pria, tanpa harapan karirnya akan naik.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement