Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gandeng Hampir 20 Negara, Untar Gelar Konsorsium dan Konferensi Internasional di Masa Pandemi

Fitria Dwi Astuti , Jurnalis-Jum'at, 13 Agustus 2021 |11:44 WIB
Gandeng Hampir 20 Negara, Untar Gelar Konsorsium dan Konferensi Internasional di Masa Pandemi
Foto: Dok UNTAR
A
A
A

Prof. Benny Tjahjono dari Coventry University Inggris menambahkan yang membahas topik Circular Economy and Supply Chain. Mengawali presentasinya, dijelaskan bahwa Supply Chain mulai dari pemasok hingga konsumen yang terlihat sederhana menjadi kompleks akibat faktor-faktor yang ada di pasar, menjadi penting.

“Secara lengkap Supply Chain merupakan sebuah proses yang terdiri dari tiga atau lebih perusahaan yang terhubung oleh satu atau lebih alur upstream dan downstream sebuah produk, servis, keuangan, serta informasi dari pemasok ke konsumen. Perlu memperhatikan supply dan demand untuk memperoleh total biaya rendah dan pengiriman yang tercepat,” ucapnya.

Dia menambahkan permasalahan yang terjadi di masa sekarang adalah keterlambatan produksi dan pengiriman, sebagai contoh seperti yang terjadi di Terusan Suez.

Circular Economy yang membangun circularity yang restorative dan regenerative dapat dicapai melalui pengurangan konsumsi material mentah, mengarahkan tujuan untuk menjaga produk bernilai dan memiliki utilitas tinggi. Memaksimalkan recirculation dan meminimalisasi sisa-sisa barang yang dapat berakhir di pembuangan akhir. Jadi, mari lakukan yang terbaik bagi konsumen serta bagi planet ini.

Sesi dilanjutkan dengan narasumber bidang Psikologi, Assoc. Prof Azalanshah Bin MD Syed dari University of Malaya Malaysia yang membahas tentang “Narrative of Malaysian Modernity”.

"Modernisasi di Malaysia, budaya popular yang menghampiri Malaysia membuat munculnya kecenderungan untuk mengikuti budaya barat sementara budaya itu belum tentu cocok untuk kehidupan sosial Malaysia,” ujarnya.

Sementara itu Covid-19 yang merebak juga memberi dampak yang besar terhadap perempuan di Malaysia dimana perempuan dituntut untuk terus di rumah melakukan pekerjaan pekerjaan rumah tangga yang semakin menumpuk.

Drama-drama yang terpengaruh ajaran keagamaan juga membentuk sebuah konstruksi dimana image seorang perempuan dipertahankan untuk mengikuti bentuk tradisional budaya Malaysia.

“Dan di waktu yang bersamaan, penggambaran perempuan menunjukan akan adanya debat dan narasi tanpa ujung tentang ketidaksetaraan gender di dalam Malaysia yang modern,” kata Azalanshah.

Pembicara Assoc. Prof Monty P. Satiadarma, Psikolog., Guru Besar Psikologi Untar, membahas tentang transformasi kehidupan edukasi dan work-life setelah Covid-

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement