Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Demi 3 Anaknya Bisa Sekolah, Warga Bayah Banten Ini Keliling Kampung Minta Seragam Bekas

Yaomi Suhayatmi , Jurnalis-Rabu, 25 Agustus 2021 |13:49 WIB
Demi 3 Anaknya Bisa Sekolah, Warga Bayah Banten Ini Keliling Kampung Minta Seragam Bekas
Tanto dan anak-anaknya. (Foto: Yaomi Suhayatmi)
A
A
A

JAKARTA - Tanto Gunawan, warga Desa Bayah Barat, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini harus harus keliling kampung demi mendapatkan seragam bekas untuk ketiga anaknya. Meski malu, namun apa daya, keterbatasan ekonomi membuat pria yang bermata pencaharian sebagai penambal perahu ini harus melakukan hal itu. 

Bagas Panca Wijaya (16), Teti Nurhayati (9) dan Putri Nurhayati (7), ketiga anaknya sangat antusias ingin bersekolah, meskipun dalam keterbatasan.

“Sudah keliling kampung tapi belum dapet juga. Belum ada yang bisa kasih baju seragam untuk anak-anak saya, seragam bekas pun tidak apa-apa yang penting masih bisa dipakai,” kata Tanto.

Si sulung, Bagas terpaksa harus mengenakan baju SMP, padahal ia sudah sekolah SMK Negeri 1 Bayah karena ketiadaan biaya untuk membeli seragam. Begitu juga dengan Teti dan Putri yang sekolah di SDN 4 Bayah juga tidak kalah menyedihkan.

Kedua kakak beradik ini terpaksa harus bergantian baju seragam. 

Baca juga: Warung Mi Ayam Sepi Usai Viral Dituding Berisi Tikus, Pemilik Mengaku Difitnah

"Pakai baju muslim saja, atau nanti kalau kakak sudah pulang sekolah, bajunya gantian aku pakai," kata Tanto menirukan putrinya. 

Yang membuat Tanto terharu, anak-anaknya tidak pernah mengeluh meski hdiup dalam kekurangan. "Mereka tidak mengeluh, dan belum pernah merengek minta jajan," kata ayah empat anak ini.

Kondisi fisik Tanto sendiri sangat memprihatinkan, pasca-kecelakaan beberapa tahun lalu lalu, salah satu kaki tidak dapat berfungsi dengan normal hingga ia kesulitan untuk beraktivitas. 

Namun, ia tidak menyerah tetap bekerja meskipun serabutan sebagai tukang tambal perahu. Situasi eknomi semakin sulit sejak pandemi Covid-19, semakin jarang orang yang menggunakan jasanya untuk bekerja. 

“Saya tidak punya uang untuk membeli seragam, ada uang sedikit tapi ini untuk bekal makan sekeluarga hingga tiga hari ke depan,” tuturnya pilu.

Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Tanto memang begitu berat menjalani hidupnya membesarkan dan menghidupi keempat anaknya, bahkan untuk tinggal di rumah yang layak huni pun sangat sulit.

Hal ini menimbulkan simpati masyarakat, organisasi kemasyarakatan Respect Peduli Lebak menggalang bantuan untuk membangun rumah tidak layak huni milik Tanto. 

"Dua tahun lalu kami swadaya membantu merenovasi rumah Pak Tanto. Hingga saat ini kami dari Respect Peduli Lebak bahkan masih ada utang kurang lebih sisa Rp10 jutaan lagi ke material. Sekarang ini anak-anaknya sedang berjuang untuk terus bisa sekolah, semoga ada dermawan yang tergerak hati untuk membantu mereka," ujar Delima Humairo penuh harap.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement