"Jika zat pencemar itu cukup berbahaya untuk menyebabkan kematian pada sejumlah orang, kemungkinan lebih banyak orang akan mengalami beberapa gejala setelah vaksinasi,” lanjutnya.
"Tapi, penyelidikan lebih lanjut tentu diperlukan untuk mengevaluasi bahaya dari dosis tertentu yang dimaksud,” ujarnya.
Jepang sebelumnya menunda penggunaan 1,63 juta dosis Moderna yang dikirimkan ke 863 pusat vaksinasi di seluruh negara itu setelah distributor lokal, Takeda Pharmaceutical, menerima laporan pencemaran pada sejumlah botol vaksin.
Sekitar 500.000 orang menerima suntikan vaksin dari pasokan tersebut, kata Taro Kono, menteri yang menangani percepatan vaksinasi.
Moderna dan perusahaan farmasi Spanyol Rovi, yang mengemas vaksin Moderna di negara-negara selain Amerika Serikat, mengatakan bahwa kontaminasi bisa disebabkan oleh masalah produksi di salah satu pabrik Rovi.
Takeda mengatakan pada Senin (30/8) investigasi masih berlangsung. Saham Rovi anjlok lebih dari 20 persen pada perdagangan sesi pagi.
Pejabat Gunma mengatakan vaksin yang terdampak di Gunma berasal dari lot Moderna yang berbeda dari yang telah ditangguhkan sebelumnya. Vaksin dari lot yang sama telah disuntikkan pada 4.575 orang di Gunma, namun prefektur itu belum menerima laporan tentang gangguan kesehatan.
Nicholas Rennick, seorang dokter Australia yang berpraktik di Pusat Kesehatan NTT di Tokyo mengatakan kontaminasi vaksin merupakan masalah serius dan perlu diselidiki, namun mengingat kasus Covid-19 yang sedang meningkat, pemberian vaksin Moderna harus dilanjutkan dengan tindakan pencegahan yang tepat.
"Kami punya ribuan pasien varian Delta di seluruh Jepang saat ini yang menyebarkan virus, dan begitu banyak penduduk yang belum divaksinasi atau terlindungi," terangnya.
Kasus Covid-19 yang parah mencapai level tertinggi di Jepang. Keadaan itu membuat banyak orang dirawat di rumah karena kurangnya tempat tidur perawatan darurat di rumah sakit.
Jumlah orang yang telah divaksin penuh di negara itu baru mencapai 44 persen dari populasi, tertinggal dari sejumlah negara maju lainnya.
Jepang tengah menjajaki kemungkinan mencampur suntikan vaksin AstraZeneca dengan vaksin dari produsen lain untuk mempercepat vaksinasi.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.