Share

Menlu AS Bantah Taliban Halangi Warga AS Tinggalkan Afghanistan

Agregasi VOA, · Rabu 08 September 2021 07:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 08 18 2467833 menlu-as-bantah-taliban-halangi-warga-as-tinggalkan-afghanistan-d0JkXoOjWL.jpg Menlu AS Antony Blinken (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, pada Selasa (7/9) membantah laporan bahwa Taliban melarang orang AS terbang keluar dari kota di Afghanistan utara. Blinken mengatakan Taliban tidak mengizinkan penerbangan charter itu berangkat karena beberapa orang tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah.

Dalam beberapa hari ini muncul laporan bahwa 1.000 orang, termasuk orang Amerika, terdampar di bandara Mazar-i-Sharif selama berhari-hari, menunggu izin penerbangan. Penyelenggara penerbangan menyalahkan keterlambatan itu pada Departemen Luar Negeri.

Blinken berbicara pada konferensi pers di Qatar, sekutu Amerika yang menjadi lawan bicara utama Taliban. Kelompok gerilyawan itu merebut kekuasaan di Kabul pada 15 Agustus setelah pemerintahan yang didukung Barat runtuh.

(Baca juga: Menlu AS Siap Beri Kesaksian di Kongres Terkait Penarikan Pasukan dari Afghanistan)

Blinken mengatakan Amerika telah mengidentifikasi sejumlah kecil orang Amerika yang berusaha meninggalkan Mazar-i-Sharif. Tetapi salah satu hambatan utama terkait penerbangan itu adalah bahwa beberapa orang tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah sehingga pesawat itu tidak bisa berangkat, kata Blinken.

Berbicara bersama Blinken, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan negaranya berharap bandara Kabul akan beroperasi untuk penumpang dalam beberapa hari ke depan, tetapi belum dicapai kesepakatan tentang pengelolaannya.

(Baca juga: Taliban Umumkan Susunan Kabinet Baru, Masih Bersifat Sementara)

Blinken dan Menteri Pertahanan Amerika Lloyd Austin berada di Qatar untuk mengevakuasi warga Amerika dan Afghanistan yang berisiko setelah Taliban kembali berkuasa di Afghanistan dan untuk menggalang konsensus sekutu tentang cara merespon gerakan Islam tersebut.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini