Maka pasukan Patih Kebo Mundarang bisa masuk dari sisi selatan untuk menduduki istana Kerajaan Singasari. Ironisnya dikisahkan saat penguasaan istana Kerajaan Singasari ini Kertanegara tengah mengadakan pesta minuman keras sebagai salah satu ritual agamanya.
Dalam kondisi mabuk dan tak siap, Kertanegara langsung keluar menghadapi serangan musuh. Saat itu pula dengan tanpa kekuatan dan keamanan pasukan yang memadai, Singasari berhasil ditaklukkan oleh Jayakatwang.
Pemberontakan ini selain mengakhiri hidup Kertanegara yang tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang bersekongkol dengan para mantan anak buah Kertanegara seperti, Arya Wiraraja, Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Wirakreti. Kekuasaan Kerajaan Singasari pun akhirnya runtuh seiring dengan tewasnya Kertanegara, sang raja.
Pasca tewasnya Kertanegara, dikisahkan naskah Negarakertagama Kertanegara dan istrirnya dicandikan di Sagala sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari.
Namun tak semua anggota keluarga Kertanegara tewas, konon Raden Wijaya yang menjadi pemimpin pasukan bersama menantu Kertanegara Ardharaja, melarikan diri dari Singasari. Raden Wijaya melarikan ke Sumenep, hingga akhirnya di Sumenep diberikan perlindungan oleh Arya Wiraraja sebagai adipati Sumenep.
Tapi Raden Wijaya tak mengetahui bila Arya Wiraraja inilah yang memprovokasi pemberontakan Jayakatwang kepada Singasari. Namun lambat laun justru Arya Wiraraja yang balik mendukung Raden Wijaya untuk menaklukkan Jayakatwang dengan bantuan tentara Kekaisaran Mongol.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.