Dokter di Semarang Diduga Campurkan Sperma ke Makanan Istri Teman Usai Masturbasi

Agregasi Solopos, · Senin 13 September 2021 10:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 512 2470394 dokter-di-semarang-diduga-campurkan-sperma-ke-makanan-istri-teman-saat-masturbasi-KOGUNbDrcV.jpg ilustrasi: shutterstock

SEMARANG -Seorang dokter dilaporkan ke Komnas Perempuan karena diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang wanita.

(Baca juga: 5 Hal Mengerikan jika Terjadi Tsunami Dahsyat 28 Meter di Pacitan)

Pelaku yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di sebuah universitas di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) itu diduga telah mencampurkan sperma miliknya ke dalam makanan yang dikonsumsi korbannya, yang juga merupakan istri teman seprofesi.

Pendamping korban dari Legal Resource Center untuk Keadlian Jender dan HAM (LRCKJHAM), Nia Lishayati, mengatakan, kejadian tersebut terjadi saat korban bersama suaminya, tinggal dalam satu rumah kontrakan bersama pelaku.

(Baca juga: Nurhali Kepsek Berharta Rp1,6 Triliun, Miliki Tanah Warisan 80 Ribu Meter)

Awalnya kata dia, korban curiga karena tudung saji tempat menyimpan makanan selalu berubah posisi dan berubah bentuk. “Korban semula mencurigai adanya kucing atau tikus di rumah kontrakan tersebut,” ujarnya dilansir solopos, Senin (13/9/2021).

Namun kecurigaan tidak terjawab karena tidak adanya binatang peliaraan seperti kucing atau pun tikus di rumah kontrakan itu.

Korban pun kemudian memasang rekaman video melalui gawai yang diletakkan di tempat tersembunyi. Ia pun kaget setelah melihat rekaman video dari iPad miliknya. Ia melihat pelaku mengintip dirinya yang sedang mandi sambil melakukan masturbasi.

Dia melanjutkan, selaku melakukan mastrubasi, pelaku meletakan sperma miliknya ke dalam makanan yang disiapkan korban untuk sang suami.

“Bisa dibayangkan korban dan suami, dalam jangka waktu yang lama memakan makanan yang tercampur dengan sperma. Hal ini membuat korban trauma dan merasa tertekan,” jelasnya.

Nia, mengatakan sebelum tinggal dalam satu rumah kontrakan, korban sebenarnya tidak setuju pelaku tinggal bersama dirinya dan suami. Namun, pelaku bersikeras dengan alasan untuk menghemat biaya. 

Korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku, memutuskan untuk melaporkan kasus tersebut ke Komnas Perempuan, yang merekomendasikan ke LRCKJHAM pada Desember 2020.

“Pelaku sebenarnya juga sudah memiliki istri dan anak. Tapi, istrinya tidak dibawa ke Semarang. Pelaku juga sudah bekerja sebagai dokter dan memiliki klinik di luar Semarang,” tutup Nia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini