Warga Afghanistan Terpaksa Jual Perabotan Rumah Tangga untuk Bertahan Hidup

Agregasi VOA, · Selasa 14 September 2021 10:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 18 2470959 warga-afghanistan-terpaksa-jual-perabotan-rumah-tangga-untuk-bertahan-hidup-ZnTy4Uck4R.jpg Warga Afghanistan terpaksa jual perabotan rumah tangga (Foto: AFP via VOA)

KABUL - Pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban menyengsarakan banyak warga Afghanistan. Di ibu kota negara itu, Kabul, banyak warga terpaksa menjual perabotan rumah tangga mereka karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi, terutama untuk bertahan hidup.

Sejak Taliban berkuasa, semua perdagangan dan impor bahan mentah ke Afghanistan terhenti sepenuhnya. Akibatnya, harga bahan-bahan pokok meningkat tak terkendali sementara lapangan pekerjaan semakin menipis.

Warga Kabul, Jamshid Jan sangat terpukul oleh keadaan ini. Ia tidak memiliki pekerjaan dan ia tidak ingin keluarganya kelaparan.

(Baca juga: PBB: Rakyat Afghanistan Perlu Bantuan untuk Hidup)

“Saya membawa perabotan rumah tangga saya ke sini untuk dijual karena tidak ada pekerjaan dan kami harus menjual barang-barang kami karena tidak ada pekerjaan, apa yang harus kami makan? Saya meminta pemerintah menciptakan lapangan kerja, mereka harus memberi kami pekerjaan, karena kami tidak punya pekerjaan. Kami menjual perabotan rumah tangga ini hari ini, entah apa yang akan kami jual besok?," jelasnya.

Mohammad Omid, warga Kabul lainnya, merasakan kesengsaraan Jan. Namun, ia hadir di pasar dadakan perabotan rumah tangga itu, bukan sebagai penjual melainkan pembeli. Ia ingin membantu warga yang kesulitan.

(Baca juga: Pemberontak Anti-Taliban di Lembah Panjshir Klaim Belum Menyerah)

"Orang-orang di sini menjual perabotan rumah tangga mereka. Mereka adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang telantar. Mereka mungkin kehilangan tempat tinggal karena perubahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan begitu banyak masalah," kata Omid.

Seorang warga Kabul bernama Ramin Ahmad mengaku, ia terpaksa menjadi pedagang barang bekas di pasar itu karena kehilangan pekerjaan. “Saya dulu bekerja di pemerintahan, dan sekarang nasib pemerintah tidak jelas. Sudah seminggu saya menggeluti usaha jual beli barang bekas. Banyak keluarga yang tidak punya uang memilih tinggal di Kabul dan terpaksa menjual peralatan rumah mereka untuk memberi makan keluarga mereka," paparnya.

Ahmad berharap, pemerintah baru Afghanistan segera mengambil tindakan agar rakyat tidak sengsara. "Situasi keamanan akan terkendali jika sistem pemerintahan telah mulai berjalan, dan pembayaran gaji diberlakukan.”

Perkembangan situasi di Afghanistan menimbulkan keprihatinan di banyak negara. Sejumlah negara telah menjanjikan bantuan namun realisasinya masih tertunda.

Sebagai contoh, China, yang pekan lalu, menjanjikan paket bantuan USD31 juta untuk Afghanistan. Bantuan tersebut akan mencakup makanan, persediaan untuk cuaca musim dingin dan vaksin Covid-19.

PBB memperingatkan bahwa pembekuan aset Afghanistan di luar negeri sekitar $10 miliar, untuk menjauhkannya dari tangan Taliban, akan menyebabkan kemerosotan ekonomi yang parah dan dapat mendorong jutaan orang Afghanistan kembali ke kemiskinan dan kelaparan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini