1.500 Lumba-Lumba Dibunuh dalam Perburuan Paling Berdarah, Tuai Kecaman Aktivis Hewan

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 14 September 2021 16:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 18 2471215 1-500-lumba-lumba-dibunuh-dalam-perburuan-paling-berdarah-tuai-kecaman-aktivis-hewan-Wy92J8WYmG.jpg 1.500 lumba-lumba dibantai secara sadis (Foto: Facebook)

DENMARK - Pembantaian terhadap hampir 1.500 spesimen lumba-lumba yang bersisi putih yang dilakukan pemburu di Kepulauan Faroe, telah memicu kemarahan para aktivis hak-hak binatang.

Perburuan, yang dikenal sebagai 'grindadráp', diadakan selama akhir pekan dengan pemburu paus lokal yang menargetkan sekelompok besar lumba-lumba sisi putih. Kepulauan Faroe otonom Denmark menjadi wilayah terakhir di Eropa yang diizinkan untuk berburu mamalia laut, karena grindadráp dianggap sebagai contoh tradisional dari “perburuan paus asli”.

Selama grindadráp, lumba-lumba digiring oleh perahu motor menuju pantai dan pemburu paus melakukannya dengan brutal. Lumba-lumba disembelih dengan tombak, berbagai macam pisau, dan bahkan alat-alat listrik.

Menurut media setempat, total 1.428 lumba-lumba tewas selama perburuan. Cuplikan dari adegan yang beredar secara online menunjukkan, beberapa perahu menggiring lumba-lumba menuju kematian mereka, dengan kondisi air pasang yang memerah karena darah.

(Baca juga: Wanita Afghanistan Nekat Kembali Bekerja di Bandara Kabul untuk Menghidupi Keluarga)

Video lain dari tempat kejadian menunjukkan, puluhan mayat lumba-lumba berbaris di sepanjang pantai setelah perburuan. Terlihat ada banyak mayat lumba-lumba yang luka menganga besar.

Hingga Senin (13/9) malam, mayat lumba-lumba terlihat dikumpulkan menjadi tumpukan besar di pantai, sebelum diduga diangkut ke pabrik pengolahan – atau dibuang – berdasarkan foto lainnya.

(Baca juga: Tikam 2 Orang di Toko Kosmetik, Pria Palestina Ditembak Tentara Israel)

Acara 'Grindadráp' terbaru ini telah memicu kemarahan para aktivis hak-hak hewan, yang menganjurkan larangan global terhadap praktik perburuan paus yang brutal. Kelompok Blue Planet Society mendesak Uni Eropa (UE), serta pihak berwenang Denmark untuk membuat wilayah otonomi menghentikan praktik kejamnya.

“Tidak ada dalam sejarah grindadráp sebelumnya, perburuan yang sebesar ini. Terakhir kejadian terparah terjadi pada 13 Agustus 2012, ketika 430 lumba-lumba sisi putih yang dibantai di Hvalba,” kata kelompok itu, seraya menambahkan bahwa perburuan ini mungkin yang terbesar yang pernah tercatat. Grindadráp sendiri berasal dari abad ke-16, sedangkan perburuan itu sendiri berasal dari berabad-abad lebih tua.

Blue Planet Society menjelaskan sementara mamalia laut ini diduga diburu untuk dimakan, sedangkan Kepulauan Faroe, yang hanya menampung sekitar 53.000 orang, tidak mungkin memproses bahkan sebagian kecil dari tangkapan lumba-lumba dalam jumlah besar ini.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini