'Pasar Basah' di Asia Masih Terus Beroperasi, WHO dan PETA Minta Ditutup

Vanessa Nathania, Okezone · Senin 20 September 2021 13:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 20 18 2474013 pasar-basah-di-asia-masih-terus-beroperasi-who-dan-peta-minta-ditutup-CErX1ZsQih.jpg Pasar menjual hewan dalam kondisi hidup dan mati (Foto: South China Morning Post)

CHINA - Rekaman video baru dari Organisasi Perlakukan Etis terhadap Hewan (PETA) menunjukkan adegan mengerikan ketika beberapa makhluk hidup masih digantung dan dijual, satu setengah tahun setelah pandemi virus corona yang kemungkinan menyebar dari pasar sejenis ini ke manusia.

Sebuah rekaman mengejutkan muncul dengan menunjukkan kelelawar, kucing, anjing, dan bahkan trenggiling masih dijual di "pasar basah" yang terkenal di seluruh Asia, meskipun ada bukti pandemi virus corona muncul dari salah satunya.

Hewan-hewan tersebut dijual di China, Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, Laos, dan Sri Lanka dengan kondisi kandang yang sempit.

Saat ini, rekaman baru dari People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) cabang Asia menunjukkan adegan mengerikan ketika makhluk tak berdaya digantung dan dijual untuk diambil dagingnya.

(Baca juga: 6 Anak Tinggal di Rumah dengan Kondisi Mengenaskan, Penuh Kotoran Anjing hingga Popok Bekas)

The Mirror melaporkan, di Indonesia, monyet-monyet kecil dijejalkan ke dalam kandang yang bahkan saking kecilnya tidak ada celah untuk menyelipkan tangan mereka.

Menurut laporan dari Mirror, penyelidik di pasar basah di Sulawesi, Indonesia menemukan kelelawar dan tikus masih dijual, selain babi, anjing, ular, katak, ayam, dan bebek.

Di pasar yang sama, puluhan kelelawar digantung di jeruji kandang kecil yang lebih kecil dari satu lebar sayap hewan itu.

(Baca juga: Perdana Buka Wisata, India Akan Beri Visa Gratis untuk 500.000 Wisatawan Pertama)

Di pasar Thailand, seekor kucing yang stres terlihat berputar-putar di dalam kandang kecilnya yang cukup besar untuk dia berdiri.

Di pasar yang sama, seekor bebek yang cacat terlihat dijejalkan ke dalam kandang yang sangat tidak memadai.

Salah satu kakinya terpelintir di punggungnya dengan menyakitkan, kulitnya yang cerah sangat kontras dengan bulu-bulu putihnya yang kotor bercoreng dengan kotoran berwarna cokelat.

Rekaman dari Laos menunjukkan daging mentah ditangani tanpa sarung tangan di kios-kios yang berjarak beberapa meter dari hewan yang kotor dan basah kuyup.

Pasar basah di Wuhan, China, tempat dimulainya wabah Covid-19, telah lama dituding sebagai sumber awal pandemi yang potensial.

Spesies yang dijual di pasar basah termasuk kelelawar, yang diketahui menjadi inang virus corona, serta yang dicurigai sebagai pembawa virus - trenggiling dan musang sawit.

Pada April lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan agar pasar seperti itu dilarang, meminta pemerintah untuk menangguhkan perdagangan hewan liar yang ditangkap hidup-hidup dari spesies mamalia untuk tujuan makanan atau pengembangbiakan dan menutup bagian dari pasar makanan yang menjual spesies hewan liar mamalia yang ditangkap hidup-hidup sebagai tindakan darurat..

WHO telah menyerukan larangan pasar hewan hidup seperti yang ada di rekaman tersembunyi.

“WHO, OIE dan UNEP menyerukan otoritas nasional yang kompeten untuk menangguhkan perdagangan hewan liar yang ditangkap hidup-hidup dari spesies mamalia untuk tujuan makanan atau pembiakan dan menutup bagian dari pasar makanan yang menjual hewan liar yang ditangkap hidup dari spesies mamalia sebagai tindakan darurat,” tulis dokumen setebal enam halaman.

“Masalah signifikan dapat muncul ketika pasar ini mengizinkan penjualan dan penyembelihan hewan hidup, terutama hewan liar, yang tidak dapat dinilai dengan tepat untuk potensi risiko – di area terbuka untuk umum,” lanjutnya.

“Ketika hewan liar disimpan di kandang atau pagar pembatas, disembelih dan dijajakan di area pasar terbuka, area ini menjadi terkontaminasi dengan cairan tubuh, kotoran dan limbah lainnya, meningkatkan risiko penularan patogen ke pekerja dan pelanggan serta berpotensi mengakibatkan limpahan patogen ke hewan lain di pasar,” bunyi dokumen itu.

“Lingkungan seperti itu memberikan peluang bagi virus hewan, termasuk virus corona, untuk menggandakan diri dan menularkan ke inang baru, termasuk manusia,” ungkap dokumen itu.

Seorang juru bicara PETA mengatakan pasar-pasar ini adalah tempat berkembang biaknya penyakit zoonosis baru termasuk Covid-21 yang mematikan, dan mengingat tingkat Covid-19 yang meroket di Inggris saat ini, mungkin ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengingat kembali tentang bagaimana kita masuk pada kekacauan seperti ini di tempat pertama.

“Meskipun Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, China, tempat virus corona diperkirakan pertama kali menginfeksi manusia, telah ditutup dan negara itu telah melarang konsumsi dan peternakan hewan 'liar' (semoga tidak hanya sementara), penting untuk dicatat. bahwa penyakit tidak hanya menyerang hewan yang dicap manusia sebagai 'liar’,” terangnya.

“Banyak pasar basah terus beroperasi di seluruh Asia, Afrika, Australia, Eropa, dan AS,” lanjutnya.

"Tidak peduli spesies mana yang mereka jual, pasar daging hewan hidup akan terus membahayakan populasi manusia, serta menghukum banyak hewan dengan kematian yang menyedihkan,” tambahnya.

Direktur PETA, Elisa Allen mengatakan setahun setelah Covid-19 membuat dunia terhenti dan membunuh lebih dari 4 juta manusia, pasar hewan hidup masih merupakan tempat pembuangan kotoran dan penderitaan yang menempatkan seluruh dunia dalam bahaya.

"PETA meminta para pemimpin global untuk menutup pasar ini sebelum mereka menciptakan Covid-21,” tegasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini