"Jadi tim peneliti cermat dan kita yakin akan bekerja secara profesional. Dan di situ ada kriteria kelompok masyarakat yang mana saja bisa menjadi relawan," kata dia.
Vaksin Nusantara, kata dr Daniel, bersifat personal. Platform sel dendritik sebagai salah satu platform imunoterapi sangat bersifat individual dan presisi.
"Ada perbedaan pendekatan pendekatan platform vaksin dendritik dengan vaksin yang lain. Yang kita datangkan adalah perangkatnya," ungkapnya.
Sementara, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melkiades Laka Lena mengatakan, pihaknya sudah meminta agar BPOM segera mengeluarkan hasil uji klinis tahap 2.
"Intinya, dukungan dari DPR RI dari awal sejak vaksin ini belum menjadi perhatian secara umum. Artinya, kami terus mendukung dan sejauh ini kami melakukan berbagai upaya agar progres Vaksin Nusantara maju ke depan. Komunikasi para pimpinan DPR RI dengan pemerintah, dengan Presiden, Wapres dan menteri terkait termasuk BPOM terus kami lakukan," tuturnya.
Di sisi lain, Melki mengaku dia dan keluarganya merupakan bagian dari relawan Vaksin Nusantara.
"Saya termasuk yang beruntung, saya relawan Vaksin Nusantara. Istri saya relawan, anak saya relawan, ponakan saya relawan, mama saya relawan," ucapnya.
Namun lantaran Vaksin Nusantara belum ada di aplikasi Pedulilindungi, Melki mengaku juga melakukan vaksinasi dengan vaksin konvensional.
"Tapi untuk pengobatan murni saya pakai Vaksin Nusantara yang kemudian juga diterima oleh keluarga saya," imbuhnya.
Anggota DPD RI, Prof Dr Hj Silviana Murni SH, MSi sebagai salah seorang yang mendapatkan penyuntikan langsung Vaksin Nusantara dari Terawan mengaku tidak mendapatkan gejala apapun usai disuntik.
"Saya meyakini bahwa Vaksin Nusantara ini mampu mengakselerasi mengatasi pandemi Covid-19. Saya merasakan bahwa saya sehat. Bahkan, saya keliling Indonesia. Alhamdullilah saya bisa bertestemoni agar orang-orang bisa yakin bahwa Vaksin Nusantara ini memang sangat ditunggu," terang Silviana Murni.
Silviana bahkan mengaku, ada salah satu temannya yang sengaja menunggu Vaksin Nusantara dan belum melakukan vaksinasi konvesional.
"Menunggu Vaksin Nusantara. Kasihan sekali mereka menunggu Vaksin Nusantara," imbuhnya.
Silviana berharap, pilihan terhadap Vaksin Nusantara dapat segera terwujud.
"Pak Terawan mengatakan 'Saya tidak ingin apa-apa, saya hanya ingin berbuat banyak untuk masyarakat lainnya'. Mudah-mudahan ini menjadi langkah kita mengatasi pandemi Covid-19. Vaksin Nusantara Insyaallah itu lah yang sangat kita butuhkan sebagai bangsa yang mandiri," tandasnya.
Hadir dalam Webinar dengan tema "Merindukan Vaksin Nusantara" para pendiri Beranda Ruang Diskusi, Raldy Doy (tvOne) dan Dar Edi Yoga (askara.co) serta wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.