Ingat Anak dengan Nama Terpanjang di Tuban? Kini Kesulitan Urus Akta Lahir

Ashadi Ikhsan (Koran Sindo), Koran SI · Rabu 06 Oktober 2021 01:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 06 519 2481855 ingat-anak-dengan-nama-terpanjang-di-tuban-kini-kesulitan-urus-akta-lahir-nbvX80du7p.jpg Anak dengan nama terpanjang di Tuban, Jawa Timur sedang digendong ibunya yang berkerudung kuning (Foto: Ashadi Ikhsan)

TUBAN - Anak kedua pasangan suami istri, Arif Akbar dan Suci Nur Aisiyah bikin geger. Bukan ulahnya, juga bukan fisiknya tetapi namanya yang bikin heran tetangga.

Pasutri yang tinggal di Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban itu sangat panjang. Bahkan, diperkirakan terpanjang di Indonesia.

Lengkapnya bernama; Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara Pi-Thariq Ziyad Syaifudin Quthuz Khoshala Sura Talenta.

Baca Juga: Viral Nama Bayi Sepanjang 19 Kata Dihujani Komentar Lucu Warganet

Bila dihitung, putra berusia 3 tahun itu memiliki 19 kata. Sedang saat ini nama terpanjang di Indonesia dipegang remaja asal Jawa Tengah bernama Aiwinur Siti Diah Ayu Mega Ningrum Dwi Pangestuti Lestasi Endang Pamikasih Sri Kumala Sari Dewi Puspita Anggraini. Dengan memiliki 17 kata nama.

Nama panjang itu yang memberi paman si anak, Mujoko Sahid. Adapun Mujoko sendiri merupakan tokoh adat Tuban selatan.

Dia berharap, nama panjang itu kelak menjadi karakter ponakannya. Agar bernalar dan berpikir panjang. Sepanjang namanya dan tidak mudah diracuni berita hoax.

Anak tersebut sekarang kesulitan membuat akta lahir. Sebab, namanya melebihi 50 karakter di Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK).

"Kami akan mengubah nama itu jika memang ada selembar kertas terlegitimasi dinas terkait larangan nama panjang dan harus diganti," tukasnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Melahirkan di Bandara, Ibu Ini Beri Nama Unik untuk Anaknya

Ditegaskan, bila pihaknya dan keluarga akan patuh pada ketentuan. Tetapi, jika tidak ada aturan yang melarang, maka pihaknya akan berjuang semaksimal mungkin.

"Jauh lebih penting untuk hikmah demokrasi bahwa kebebasan berpendapat dilindungi oleh hukum. Adapun jika final tidak boleh kami akan mematuhinya, tapi jika masih ada celah kami akan tetap berjuang di negeri merdeka yg demokratis ini," pungkas Mujoko Sahid.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini