WHO: Booster Vaksin Covid-19 Tidak Bermoral dan Tidak Adil

Susi Susanti, Okezone · Rabu 13 Oktober 2021 06:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 18 2485424 who-booster-vaksin-covid-19-tidak-bermoral-dan-tidak-adil-qrJyOmKNVH.jpg Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto: Reuters)

JENEWA - Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan mendistribusikan suntikan booster vaksin Covid-19 di beberapa negara sementara inokulasi di seluruh Afrika tertinggal adalah hal yang tidak bermoral dan tidak adil.

“Meningkatnya penggunaan booster adalah tidak bermoral, tidak adil dan tidak adil dan itu harus dihentikan,” terangnya kepada Becky Anderson dari CNN pada Selasa (12/10).

"Memulai booster benar-benar yang terburuk yang bisa kita lakukan sebagai komunitas global. Ini tidak adil dan juga tidak adil karena kita tidak akan menghentikan pandemi dengan mengabaikan seluruh benua, dan benua yang tidak memiliki kapasitas produksi dengan cara lain,” lanjutnya.

WHO telah merekomendasikan dosis vaksin tambahan untuk orang dengan gangguan kekebalan. Namun WHO sangat menentang meluasnya penggunaan suntikan booster sampai lebih banyak dunia divaksinasi dengan suntikan Covid-19 putaran pertama.

(Baca juga: WHO Rekomendasikan Booster Covid-19 untuk Orang dengan Masalah Sistem Imun)

Tedros mengatakan Amerika Selatan, Amerika Utara, Eropa, Asia, Oseania semuanya telah memberikan dosis vaksin tunggal kepada lebih dari 50% populasi mereka, sedangkan hanya 7% populasi Afrika yang telah menerima dosis.

Pada September lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengizinkan dosis penguat vaksin Pfizer untuk orang-orang tertentu.

Selain itu European Medicine Agency (EMA) telah mengarahkan negara-negara Uni Eropa untuk mengeluarkan "rekomendasi resmi tentang penggunaan dosis booster, dengan mempertimbangkan data efektivitas yang muncul dan data keamanan yang terbatas."

(Baca juga: WHO: Kasus Covid-19 Global Naik Pertama Kali dalam 7 Minggu)

EMA mengatakan bahwa orang dengan sistem kekebalan normal, dosis penguat BioNTech/Pfizer "dapat dipertimbangkan setidaknya 6 bulan setelah dosis kedua untuk orang berusia 18 tahun ke atas."

Badan tersebut saat ini sedang mengevaluasi data untuk mendukung dosis booster untuk vaksin Moderna.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini