Ini Penyebab Harimau di Merangin Mangsa Manusia

Azhari Sultan, Okezone · Rabu 20 Oktober 2021 01:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 340 2488843 ini-penyebab-harimau-di-merangin-mangsa-manusia-28VEjjPR9n.jpg Ilustrasi harimau (Foto: WWF)

JAMBI - Kepala BKSDA Jambi Rahmad Saleh menegaskan, penyebab kurusnya Harimau Sumatera yang berhasil ditangkap tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dan Polres Merangin pada akhir pekan lalu terputusnya rantai makanan. Pasalnya, hewan liar seperti babi hutan yang jadi mangsanya sudah berkurang.

"Diduga dari faktor babi hutan sudah berkurang di habitatnya. Babi hutannya kemungkinan terkena virus," ujarnya, Selasa (19/10/2021).

Baca Juga: Harimau Sumatera Kembali Ditemukan Mati Terjerat di Riau

Dia menambahkan, untuk kasus Merangin diperkirakan sudah sejak tahun 2020 lalu. "Kasus Merangin (Harimau Sumatera) ini, diperkirakan rantai makanannya terputus sejak tahun 2020. Lantaran itu, harimau tersebut mulai menyerang manusia," tukasnya.

"Keterbelakangan hidupnya terganggu sehingga melakukan tindakan alaminya, yakni menyerang. Akibatnya, kondisi tubuh si belang menjadi kurus," tegas Rahmad.

Sebelumnya, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dan Polres Merangin akhirnya berhasil mengevakuasi seekor Harimau Sumatera ke tempat penyelamatan satwa (TPS) di Markas Komando Satuan Polhut Reaksi Cepat (Sporc) Brigade Harimau Jambi di Jalan Lintas Jambi-Pekanbaru, KM 15, Mendalo, Kabupaten Muarojambi, Jambi, pada Minggu 17 Oktober 2021.

Namun, si Belang yang diketahui berjenis kelamin betina tersebut dalam kondisi memprihatinkan. Petugas menduga, harimau tersebut dalam keadaan kurus lantaran tidak menemukan mangsanya di habitatnya.

Baca Juga:  Harimau Tewaskan 2 Orang di Jambi, BKSDA Pasang Kamera Trap dan Perangkap

Kepala BKSDA Jambi Rahmad Saleh usai mengevakuasi harimau tersebut, mengaku prihatin dengan binatang buas tersebut. "Diduga harimau berjenis kelamin betina tersebut dalam kondisi lemah dan memprihatinkan dengan kaki luka (cachaexia)," ungkapnya, Minggu 17 Oktober 2021.

Menurutnya, harimau yang diselamatkan ini memiliki panjang sekitar 180 cm dengan umur sekitar 10 hingga 12 tahun," tuturnya.

Dia juga menambahkan, saat penangkapan dan evakuasi, petugas tidak melakukan pembiusan. "Kita tidak melakukan pembiusan, lantaran kondisi harimau yang sangat lemah dan memprihatinkan. Diduga harimau tersebut sudah beberapa waktu tidak mendapatkan asupan makanan di habitatnya," terang Rahmad.

Untuk saat ini, sambungnya, tindakan pertama yang telah dilakukan adalah pemberian makan dan vitamin. "Untuk selanjutnya, nanti akan dilakukan pemeriksaan fisik lengkap dan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengetahui kondisi kesehatan harimau," imbuhnya.

Selanjutnya, dia mengatakan, lokasi kejadian pertama merupakan hutan Desa Guguk, sedangkan kejadian kedua dan ketiga berada di kebun karet milik warga.

"Dari pemantauan tim dilapangan tidak menemukan jejak mangsa/pakan (prei). Untuk memastikan bahwa tidak ada individu harimau sumatera lain di 3 desa tersebut, akan dilakukan pemantauan terus beberapa waktu kedepan dengan patroli dan tetap memasang kamera trap dan di sekitar lokasi kejadian," jelas Rahmad.

Diakuinya harimau saat ini masih dalam kondisi liar. "Untuk itu, BKSDA Jambi akan melakukan rehabilitasi di TPS dengan tetap menjaga insting liarnya sehingga diharapkan dapat dikembalikan ke habitat alamiahnya nanti," harapnya.

Sebelumnya, BKSDA Jambi telah melakukan evakuasi terhadap Harimau Sumatera korban konflik di Desa Guguk, Desa Air Batu dan Desa Marus Jaya, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin pada tanggal 15 Oktober 2021.

Sejak 25 September 2021 lalu, telah terjadi konflik antara manusia dan satwa liar Harimau Sumatera yang mengakibatkan 2 orang meninggal dunia dan 1 orang luka-luka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini