Misteri Makam di Tepi Jalan Dekat Balai Kota Malang

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 21 Oktober 2021 09:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 21 519 2489385 misteri-makam-di-tepi-jalan-dekat-balai-kota-malang-f5AyXU28Z9.jpg Bangunan makam di dekat Balai Kota Malang (Foto : Okezone.com/Avirista)

MALANG - Masyarakat Kota Malang yang melintasi Jalan Majapahit Kota Malang tentu tak asing dengan keberadaan bangunan menyerupai makam. Bangunan ini terlihat dari sisi Jalan Majapahit, yang letaknya persis berada di belakang Wisma Tumapel, berjarak 300 meter dari Balai Kota Malang.

Bangunan ini juga lokasinya tepat berdiri di utara Jembatan Majapahit, yang berada di seberang pintu masuk Taman Rekreasi Kota (Tarekot) dan Mini Block Office Kompleks Balai Kota Malang. Bangunan dengan pagar tembok bercat hitam ini tampak misterius.

Tampak dari jalan protokol utama Kota Malang, pengemudi kendaraan bisa melihat ada satu pohon rimbun nan lebat, yang berada tepat di area dalam pagar bangunan, yang diduga makam.

Memasuki area bangunan, terdapat semacam bangunan kecil semacam gasebo, yang melindungi bangunan menyerupai makam. Terlihat sebuah bangunan yang diduga makam ini dibangun sedemikian rupa menyerupai layaknya makam dengan panjang mencapai dua meter. Bahkan kijing dari semen dan batu nisan terlihat jelas. Tapi saat dilakukan penelusuran tak ditemukan tulisan nama dan siapa yang dimakamkan di sana.

Misteri pun merebak di kalangan masyarakat Kota Malang, ada yang menyebut itu merupakan makam salah satu sesepuh Kota Malang yang mbabat alas atau membuka hutan, untuk tempat tinggal pertama di Kota Malang. Ada juga yang mengatakan, bangunan diduga makam itu merupakan makam jasad orang Belanda, yang menjadi satu rangkaian dengan Wisma Tumapel, yang dahulu bernama Splendid Inn, saat menjadi hotel di masa kependudukan Belanda.

Baca Juga : 4 Makam Misterius, dari Jalur Kawah Ijen hingga di Dalam Rumah

Bahkan ada yang menyebut itu hanyalah petilasan seseorang yang konon menjadi pembuka hutan di Kota Malang. Tapi yang pasti belum ada catatan sejarah yang pasti mengenai bangunan makam ini.

Pakar Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Reza Hudiyanto menyatakan, dari catatan sejarah yang dimiliki ia tak mengetahui secara pasti siapa yang dimakamkan di situ.

"Itu belum tahu belum punya info kalau itu. Saya untuk jawab itu harus tahu riwayat makamnya kayak apa. Ini kami tidak punya riwayatnya," kata Reza, pria yang juga dosen sejarah di UM ini.

Menurut Reza, selama proses pembangunan Splendid Inn yang kini berganti nama menjadi Wisma Tumapel pada tahun 1923, belum ada catatan terkait bangunan yang diduga makam itu. Apalagi kalau bicara duluan mana antara bangunan yang diduga makam dengan pembangunan Splendid Inn di zaman Belanda, ia tak bisa menerka.

"Wisma Tumapel 1923 makamnya harus sebelum itu. Kalau bicara makam itu pembuktiannya susah kalau mau dibuktikan harus kita bor, dalam itu ada struktur tanah yang berbeda tidak di bawah kijing itu. Itu yang kita nggak tahu dan nggak pernah membuktikan, yang fokus pembangunan Spelndid Inn itu fokusnya," terangnya.

Minimnya catatan sejarah dari bangunan yang diduga makam ini membuatnya mengasumsikan bisa saja bangunan itu dibuat, agar tidak digusur. Maka tak pelak julukan shadow makam, disematkan Reza kepada bangunan itu.

Hal ini diperkuat dengan karakter orang Jawa, pada khususnya yang sering mempercayai bangunan makam yang kemudian dieksploitasi.

"Makam itu shadow makam, makam pura - pura, biar nggak digusur, namanya kekuatan yang sudah mati, atau memang dibuat, karena tahu di Jawa khususnya, dan masyarakat Indonesia punya kepercayaan berlebihan kepada makam, sehingga itu dimanfaatkan dieksploitasi," terangnya.

Hal serupa diungkapkan Sejarawan Dwi Cahyono yang belum mengetahui asal usul adanya bangunan yang diduga kuat makam ini.

"Ya siapa pun itu kayaknya juga nggak tahu siapa tokoh itu. Nggak bakal tahu, kalau ada yang kemudian nyebut Mbah siapa titik jelas itu identifikasi baru. Saya nggak yakin kalau itu nama tokoh yang sesungguhnya, reka - rekaan orang - orang sekarang," papar Dwi Cahyono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini