Intelijen AS: Perubahan Iklim Pancing Tensi Global

Vanessa Nathania, Okezone · Sabtu 23 Oktober 2021 11:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 23 18 2490527 intelijen-as-perubahan-iklim-pancing-tensi-global-Hl2kC5FqDH.jpg Ilustrasi perubahan iklim (Foto: AFP)

WASHINGTON - Komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) telah memperingatkan perubahan iklim akan menyebabkan meningkatnya ketegangan internasional.

Perkiraan Intelijen Nasional pertama mengenai Perubahan Iklim tersebut merupakan pengamatan dampak iklim terhadap keamanan nasional hingga 2040.

Negara-negara akan berdebat tentang bagaimana merespons isu ini dan dampaknya akan paling terasa di negara-negara miskin, yang paling tidak mampu beradaptasi.

Laporan tersebut juga memperingatkan risiko jika teknologi geo-engineering futuristik digunakan oleh beberapa negara yang bertindak sendiri.

Baca juga: Intel AS: Ada Ancaman Teroris Baru yang Lebih Besar Selain Afghanistan

Laporan berisi 27 halaman itu berisi pandangan kolektif dari semua 18 badan intelijen AS. Ini adalah pandangan pertama mereka tentang apa arti iklim bagi keamanan nasional.

Laporan itu melukiskan gambaran dunia yang gagal bekerja sama, yang mengarah pada persaingan dan ketidakstabilan yang berbahaya. Laporan ini telah dikeluarkan tepat sebelum Presiden AS Joe Biden menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim COP26 bulan depan di Glasgow, yang bertujuan untuk mencari kesepakatan internasional.

Baca juga: Intel AS Selidiki Data Genetik dari Laboratorium Wuhan Ungkap Asal-usul Covid-19

Penilaian ini juga memperingatkan negara-negara akan mencoba untuk mempertahankan ekonomi mereka dan mencari keuntungan melalui pengembangan teknologi baru. Beberapa negara mungkin juga menolak keinginan untuk melakukannya, di mana lebih dari 20 negara mengandalkan bahan bakar fosil untuk lebih dari 50% dari total pendapatan ekspor.

"Penurunan pendapatan bahan bakar fosil akan semakin membebani negara-negara Timur Tengah yang diproyeksikan menghadapi efek iklim yang lebih intens," terang laporan itu.

Laporan itu memperingatkan tak lama lagi, dampak perubahan iklim akan terasa di seluruh dunia.

  • Negara-negara miskin

Selain itu, komunitas intelijen AS mengidentifikasi 11 negara dan dua wilayah di mana energi, makanan, air dan keamanan kesehatan berada pada risiko khusus. Mereka cenderung lebih miskin dan kurang mampu beradaptasi, meningkatkan risiko ketidakstabilan dan konflik internal. Gelombang panas dan kekeringan dapat memberikan tekanan pada layanan seperti pasokan listrik.

Lima dari 11 negara berada di Asia Selatan dan Timur - Afghanistan, Burma, India, Pakistan dan Korea Utara - empat negara berada di Amerika Tengah dan Karibia - Guatemala, Haiti, Honduras dan Nikaragua. Kolombia dan Irak termasuk diantaranya, begitu juga dengan Afrika Tengah dan negara-negara kecil di Pasifik yang berisiko.

Ketidakstabilan dapat menyebar, terutama dalam bentuk arus pengungsi, dengan peringatan bahwa hal ini dapat menekan perbatasan selatan AS dan menciptakan tuntutan baru terkait kemanusiaan.

  • Titik terang

Kutub Utara kemungkinan akan menjadi salah satu titik terang, karena menjadi lebih mudah diakses karena berkurangnya es. Hal ini memungkinkan pembukaan rute pengiriman baru dan akses ke stok ikan, tetapi juga menciptakan risiko karena salah perhitungan ketika militer bisa memasukinya.

Akses terhadap air juga akan menjadi sumber masalah. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, sekitar 60% sumber air permukaan melintasi batas. Pakistan dan India memiliki masalah air yang sudah berlangsung lama. Sementara itu, cekungan Sungai Mekong dapat menyebabkan masalah antara Cina dan Kamboja dan Vietnam, laporan tersebut memperingatkan.

  • Teknologi Masa Depan

Sumber risiko lain adalah bahwa suatu negara mungkin memutuskan untuk menggunakan geo-engineering untuk melawan perubahan iklim.

Geo-engineering ini melibatkan penggunaan teknologi futuristik, misalnya mengirim partikel reflektif ke stratosfer atas yang meniru efek pendinginan letusan gunung berapi atau menggunakan aerosol untuk mendinginkan lautan di area tertentu.

Tetapi jika satu negara bertindak sendiri, cara itu bisa dengan mudah mengalihkan masalah ke wilayah lain dan membuat kemarahan negara lain yang terkena dampak negatif atau negara yang tidak mampu bertindak sendiri.

Para peneliti di beberapa negara, termasuk Australia, Cina, India, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat, serta beberapa anggota UE, sedang melihat teknik ini tetapi hanya ada sedikit aturan atau regulasinya.

Laporan itu juga mengatakan ada beberapa cara untuk menghindari masa depan yang suram ini. Teknologi terobosan, termasuk penggunaan geo-engineering yang diterima, adalah beberapa diantaranya. Hal lain adalah bencana iklim ini dapat bertindak sebagai pendorong untuk kerjasama yang lebih besar.

Laporan tersebut merupakan tanda bahwa iklim sekarang menjadi bagian sentral dari pemikiran keamanan dan akan meningkatkan masalah yang ada serta menciptakan masalah baru.

"Pemerintah semakin menyadari bahwa perubahan iklim membentuk lanskap keamanan nasional tidak seperti sebelumnya," terang Erin Sikorsky, direktur Pusat Iklim dan Keamanan yang sebelumnya bekerja di Dewan Intelijen Nasional, kepada BBC.

"Pertimbangan iklim tidak dapat dipisahkan dari masalah keamanan lainnya, seperti persaingan dengan China. Negara itu menghadapi risiko iklim yang semakin kompleks, dari naiknya permukaan laut yang mempengaruhi jutaan orang di kota-kota pesisir, banjir di pedalaman yang mengancam infrastruktur energi, dan penggurunan dan migrasi stok ikan yang merusak ketahanan pangannya. Strategi keamanan nasional yang tidak memperhitungkan faktor-faktor tersebut akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan kunci tentang perilaku China yang salah,” paparnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini