JAKARTA - Momentum kongres Sumpah Pemuda pada 1928 akan selamanya terekam dalam sejarah bangsa Indonesia. Saat itu, seluruh pemuda di tanah air berkumpul dan menghasilkan 3 butir ikrar guna mewujudkan persatuan dan kesatuan.
Jalannya kongres ini tak lepas dari tokoh-tokoh penting yang terlibat di dalamnya. Berikut daftarnya.
1. Soenario
Soenario Sastrowardoyo adalah tokoh pergerakan Indonesia kelahiran Madiun, 2 Agustus 1902. Sejak kecil, ia sudah mendapat pendidikan di sekolah berbahasa Belanda, serta diajar oleh guru-guru Belanda.
Saat duduk di sekolah menengah kejuruan hukum atau Rechtschool Batavia, Soenario sudah mulai aktif menjadi anggota Jong Java. Sementara itu, dirinya berhasil melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Leiden, Belanda dan menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. Lulus dari Leiden pada 1925, Soenario menjadi pengacara dan membela aktivis muda Indonesia yang berurusan dengan kepolisian Hindia Belanda.
Dirinya berperan cukup vital dalam implementasi kongres Sumpah Pemuda 1928. Sebab, ia ditunjuk sebagai penasehat panitia. Melansir laman resmi LIPI, Soenario juga menjadi pembicara dalam kongres tersebut dengan membawakan makalah bertajuk ‘Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia’.
Dirinya menyebut, jika fondasi dari kongres Sumpah Pemuida ini adalah persatuan dan kecintaan. Soenario menekankan, persatuan yang terjalin tidaklah cukup dari kalangan intelek saja. Namun, seluruh pemuda harus bersatu dalam pergerakan nasional.
2. Soegondo Djojopoespito
Soegondo adalah tokoh sumpah pemuda yang lagir di Tuban, 22 Februari 1905. Ia mengenyam pendidikan sekolah dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Tuban. Kemudian, melanjutkan ke sekolah menengah pertama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya.
Dirinya hijrah ke Yogyakarta ketika menapaki jenjang sekolah menengah atas atau AMS (Algemeene Middelbare School).
Melansir buku ‘Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan Pengabdiannya’ milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, ia menumpang di rumah Ki Hajar Dewantara selama tinggal di Yogyakarta. Sejak duduk di bangku AMS itulah, ia sudah menunjukkan minatnya terhadap dunia politik.
Soegondo muda dikenal sebagai anak yang pandai dan sangat gemar membaca. Adapun buku yang dilahapnya adalah dari berbagai bahasa seperti Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman. Pada jenjang pendidikan tinggi, ia memilih untuk menimba ilmu di Rechte Hoge School atau Sekolah Tinggi Hakim di Jakarta pada tahun 1925.
Kongres sumpah pemuda ke-2 yang digelar pada 27 hingga 28 Oktober 1928 dipimpin oleh Soegondo. Pada saat itu, ia juga menjabat sebagai ketua PPPI (Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia) yang didirikan pada 1926. Organisasi ini lantang menyerukan agar seluruh perkumpulan pemuda bersatu padu dalam sebuah perkumpulan atau organisasi pemuda yang didasari kebangsaan.
3. Muhammad Yamin
Muhammad Yamin lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 22 Agustus 1903. Yamin memperoleh mendidikan dari HIS Palembang dan AMS Yogyakarta. Saat belajar di AMS, Yamin sanbgat tertarik mempelajari berbagai bahasa asing seperti Yunani dan Latin.
Ia juga menaruh minat besar terhadap sejarah purbakala. Sedianya, Yamin ingin melanjutkan pendidikan tingginya ke Leiden, Belanda. Namun, keinginan itu terpaksa ia pendam lantaran sang ayah meninggal dunia.
Akhirnya, Yamin memilih untuk belajar di Rechte Hoge School Batavia dan lulus di tahun 1932. Dirinya juga sangat dikenal dalam bidang kesusastraan. Yamin aktif menulis sair ataupun jurnal dalam bahasa Melayu dan Belanda, sejak tahun 1920an.
Dalam perumusan sumpah pemuda, Yamin mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sebenarnya, hal ini sudah ia singgung pada kongres Sumpah Pemuda pertama yang dilakukan apda 1926. Dalam pidatonya, Yamin menyebut tentang adanya kemungkinan-kemungkinan untuk bahasa dan kesusasteraan Indonesia di kemudian hari. Dirinya menganjurkan agar bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa bangsa Indonesia.
4. W.R Supratman
Wage Rudolf Supratman, atau W.R Supratman dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ia lahir di Purworejo, 19 Maret 1903. Mengutip informasi yang ada dalam buku ‘Wage Rudolf Supratman’ karya Bambang Harlanto, Wage Supratman awalnya tertarik dengan dunia jurnalistik saat tinggal di Makassar pada 1924. Ia rajin berbincang dengan wartawan koran ‘Pemberitaan Makasser’.
Kekagumannya amat tinggi terhadap para wartawan itu. Sebab meskipun pendapatannya kecil, mereka tetap semangat berjuang demi mempertahankan idealism dan nasionalismenya. Ketika itu pula, Wage menyadari bahwa surat kabar sangat penting sebagai sarana komunikasi masyarakat. Karena rajin membaca koran, ia akhirnya juga tertarik dengan dunia politik. Wage bahkan sangat ingin pindah ke Jawa demi bisa bergabung dengan angkatan muda sebagai pejuang pergerakan.
Ketika kongres pemuda ke-2 dilaksanakan, Wage memainkan lagu secara instumental dengan biolanya. Lagu itu kemudian dikenal sebagai Indonesia Raya. Melansir buku ‘W.R Supratman: Guru Bangsa Indonesia’ yang diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), alunan biola milik Wage sontak membakar semangat para pemuda yang hadir. Melalui lagu ini, Wage ingin mengabadikan semangat anak muda tanah air untuk menegakkan kesatuan.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.