Share

Kisah Guru Bangun Sekolah Online agar Anak-Anak Perempuan Bisa Sekolah Lagi Usai Dilarang Taliban

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 04 November 2021 08:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 04 18 2496446 kisah-guru-bangun-sekolah-online-agar-anak-anak-perempuan-bisa-sekolah-lagi-usai-dilarang-taliban-mHfTwGcnJP.jpg Guru ini mendirikan sekolah online agar anak-anak perempuan bisa sekolah kembali (Foto: BBC)

KABUL - Selama tiga bulan terakhir, kelompok Taliban sebagai penguasa baru Afghanistan memerintahkan semua perempuan dan remaja putri untuk tinggal di rumah ketimbang ke sekolah 'demi keselamatan mereka sendiri'.

Mereka terus mengatakan larangan itu bersifat sementara, tetapi tanpa solusi yang nyata, sehingga seorang guru diaspora Afghanistan memutuskan untuk bertindak.

Dalam beberapa pekan setelah mendirikan sekolah online, Angela Ghayur telah mendaftarkan hampir 1.000 orang siswa dan lebih dari 400 relawan guru. Demi keamanan mereka, semua nama telah diubah.

Didirikan oleh seorang guru Afghanistan berpengalaman yang tinggal di luar negeri, 'Sekolah Online Herat' telah membantu hampir 1.000 orang perempuan dan remaja putri yang saat ini dilarang mengakses pendidikan.

Baca juga: Taliban Janji Bakal Izinkan Perempuan Sekolah

Lahir di Provinsi Herat di Afghanistan bagian barat , Angela baru berusia delapan tahun ketika perang saudara pecah di seluruh negeri dan keluarganya menyelamatkan diri ke Iran.

Selama empat tahun peperangan terus berlanjut hingga akhirnya Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada 1996.

Sebagai seorang bocah yang menjadi pengungsi, Angela mengerti apa artinya melupakan dunia pendidikan.

 Baca juga: Pemerintah Taliban Resmi Umumkan Hak Pendidikan Perempuan

"Kami hanya memiliki visa sementara, jadi saya tidak bisa pergi ke sekolah," ujar Angela.

"Saat itu cukup umum bahwa anak-anak Afghanistan yang kabur ke Iran tidak bisa pergi ke sekolah karena mereka tidak memiliki dokumen seperti yang diinginkan,” terangnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Setelah lima tahun di Iran, ayah Angela akhirnya mendapatkan dokumen yang tepat baginya untuk sekolah. Tetapi bahkan pada usia 13 tahun, Angela tahu panggilannya adalah untuk mengajar.

Setiap hari sepulang sekolah, Angela kembali ke rumah dan mengulangi semua yang telah dipelajarinya kepada 14 anak Afghanistan lainnya, yang semuanya tidak dapat mengakses pendidikan.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kembali ke Afghanistan, Angela memenuhi syarat sebagai guru sekolah menengah sebelum pindah ke Belanda, dan akhirnya menetap di Inggris.

Dalam beberapa bulan terakhir, seperti dialami banyak kalangan diaspora Afghanistan, Angela mengaku sering merasa lumpuh saat melihat kejadian di kampung halamannya.

Tapi apa yang paling menyakitkan, ujarnya, adalah pembatasan bagi para perempuan di dunia pendidikan oleh Taliban.

Sebagai seorang guru dan pembela hak-hak remaja putri dan perempuan, dia tahu dia harus bertindak.

Angela mendirikan 'Sekolah Herat Online,' sebuah pendidikan online bagi semua perempuan dan remaja putri Afghanistan yang saat ini tidak mendapat pendidikan.

"Saya merasa sekolah ini adalah hasil dari semua rasa sakit, penderitaan, dan pengalaman saya," kata Angela. "Motto kami adalah, pena bukan pistol."

Sejak unggahan pertamanya di Instagram, ketika dia meminta bantuan dari para guru berpengalaman, hampir 400 orang relawan menyatakan dukungannya.

Melalui Telegram atau Skype, mereka menawarkan lebih dari 170 kelas online yang berbeda, mulai dari matematika hingga seni.

"Sebagian besar gurunya berasal dari Iran. Mereka bekerja antara dua hingga delapan jam sehari, menawarkan berbagai mata pelajaran mulai dari memasak hingga melukis,” ungkapnya.

Di Afghanistan, sejak Taliban mengumumkan penutupan semua sekolah untuk anak perempuan di atas usia tujuh tahun, Nasrin dan empat saudara perempuannya telah melakukan yang terbaik guna melanjutkan belajar di rumah di Kabul.

Tapi menurutnya itu sangat sulit untuk dua kakak tertuanya, yang keduanya mahasiswa kedokteran dan teknik di sebuah universitas.

"Semua impian kami telah hancur. Bahkan jika sekolah dibuka kembali, itu tidak akan sama," kata Nasrin, 13.

"Saya ingin menjadi pilot. Tapi sekarang itu tidak akan pernah terjadi. Taliban tidak akan pernah membiarkan anak perempuan menjadi pilot,” lanjutnya.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, secercah harapan mendatangi Nasrin dan saudara-saudaranya dalam bentuk sekolah online.

Jauh dari Nasrin dan keluarganya di Kabul, Angela memandang ke arah laut dari rumahnya di tepi pantai di pesisir selatan Inggris.

Secara bersama-sama dia dan sekolahnya menyokong hampir 1.000 orang siswa - salah satunya adalah Nasrin.

Bagi Nasrin, dia mengaku bergabung dengan 'Sekolah Online Herat' tak hanya memberinya harapan, tetapi juga membuatnya bermimpi lagi.

Saat ini dia tengah belajar bahasa Turki dengan salah seorang guru relawan, dan Nasrin berujar suatu hari dia akan senang tinggal di Istanbul.

Dalam beberapa pekan terakhir, ada beberapa berita positif bagi para siswa perempuan di utara negara itu, di mana para remaja putri kembali ke sekolah menengah di lima dari 34 provinsi Afghanistan.

Para perempuan muda di universitas swasta, tetapi bukan perguruan tinggi negeri yang dikelola negara, juga telah diizinkan untuk kembali.

Namun, bagi Nasrin dan saudara perempuannya yang tinggal di Kabul, bersama dengan sebagian besar siswa perempuan di seluruh negeri, masih ada larangan menyeluruh bagi mereka untuk kembali ke dunia pendidikan.

Juga bagi guru-guru perempuan, seperti ibu Nasrin, yang diperintahkan untuk tinggal di rumah, Taliban tidak menawarkan rencana kapan mereka akan diizinkan kembali bekerja.

Di ibu kota Kabul saja, PBB memperkirakan 70% dari semua guru yang memenuhi syarat adalah kaum perempuan.

Hal ini menunjukkan bahwa bahkan bagi bocah laki-laki dan remaja putra yang telah kembali, kemungkinan masih ada kekurangan besar staf pengajar untuk mendukung mereka.

Jauh sebelum kemunculan Taliban, Afghanistan sudah berjuang dengan kurangnya akses ke dunia pendidikan.

Menurut Kementerian Pendidikan pada 2019, lebih dari sepertiga anak berusia di atas 15 tahun masih buta huruf.

Namun dengan sebagian besar anak perempuan, setengah dari populasi siswa saat ini terjebak di dalam rumah, persoalan itu diperkirakan akan melonjak.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini