Buru Hacker, AS Tawarkan Hadiah Rp143 Miliar

Tim Okezone, Okezone · Kamis 11 November 2021 18:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 11 18 2500399 buru-hacker-as-tawarkan-hadiah-rp143-miliar-fSORBM5NP9.jpg Ilustrasi kejahatan siber (Foto: Sputnik/dpa)

NEW YORK - Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Kamis (04/11) mengumumkan akan memberi hadiah sebesar USD10 juta (Rp143 miliar) untuk informasi apapun yang dapat membantu mereka menemukan pemimpin grup yang menyandera data dengan meminta uang tebusan di dunia maya atau ransomware, DarkSide.

Dikutip DW, ini adalah upaya terbaru negara itu untuk menghentikan serangan pemerasan di dunia maya oleh DarkSide. 

“Dalam beberapa hari dan minggu mendatang, Anda akan melihat lebih banyak penangkapan, lebih banyak penyitaan uang tebusan dari peretas dan tambahan operasi penegakan hukum,” terang Wakil Jaksa Agung, Lisa Monaco.

“'Jika Anda menargetkan kami, kami akan menargetkan Anda,'' ujarnya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AP minggu ini. Dia menolak untuk mengatakan secara spesifik siapa saja yang kemungkinan akan menghadapi penuntutan.

Baca juga: Perangi Kejahatan Dunia Maya, Dephan AS Tangkap Pria Rusia yang Diekstradisi dari Korsel

Selain hadiah untuk informasi yang bisa menangkap para pemimpin kelompok peretas, Departemen Luar Negeri juga menawarkan hingga USD5 juta (Rp72 miliar) untuk informasi yang dapat mengarah ke penangkapan atau penjatuhan hukuman kepada siapa pun, di negara mana pun, yang mencoba berpartisipasi dalam insiden ransomware DarkSide.

"Dengan menawarkan hadiah ini, Amerika Serikat menunjukkan komitmennya untuk melindungi korban ransomware di seluruh dunia dari eksploitasi oleh penjahat dunia maya," kata Departemen Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

 Baca juga: Takut Pembalasan, Grup Hacker Rusia Minta Maaf Retas Data Putra Mahkota Saudi

Biro Investigasi Federal (FBI) mengatakan DarkSide bermarkas di Rusia dan bertanggung jawab atas serangan siber di jaringan pipa utama yang sempat melumpuhkan jaringan pipa minyak dan gas Colonial Pipeline pada Mei lalu. Tidak beroperasinya jaringan pipa tersebut mengakibatkan penutupan tempat pengisian bahan bakar selama berhari-hari di AS dan menyebabkan kenaikan harga gas dan kekurangan bahan bakar di beberapa bagian.

Terlepas dari besarnya jumlah hadiah yang cukup menggoda, tidak semua pakar keamanan siber yakin bahwa imbalan ini akan efektif dalam mengungkap peretas.

Sementara itu, Colonial Pipeline mengatakan telah membayar hampir USD5 juta (Rp72 miliar) dalam bentuk Bitcoin kepada para peretas untuk bisa kembali mendapatkan akses ke sistem mereka. Pada Juni lalu, Departemen Kehakiman AS berhasil mengembalikan sekitar USD2,3 juta (Rp33 miliar) dari uang tebusan itu.

Sebelumnya, perusahaan pengolah daging terbesar di dunia yakni JBS pada bulan Juni mengatakan bahwa mereka telah membayar uang sebesar USD11 juta setelah diretas oleh kelompok Rusia yang dikenal dengan nama REvil.

Dikutip DW, data paling anyar yang dikeluarkan bulan ini menunjukkan bahwa otoritas AS menerima laporan adanya pembayaran terkait ransomeware dengan nilai sekitar USD590 juta atau (Rp8,5 triliun) pada paruh pertama 2021.

Angka itu 42% lebih tinggi dari jumlah keseluruhan pembayaran yang diungkapkan sepanjang tahun 2020, kata laporan Departemen Keuangan AS. Diyakini bahwa biaya sebenarnya bisa mencapai miliaran dolar AS.

Pemerasan dunia maya dilakukan oleh peretas dengan melibatkan pembobolan jaringan perusahaan atau institusi, sering kali melalui phishing atau penipuan lainnya.

Para penjahat siber mengenkripsi data penting perusahaan dan meminta uang tebusan yang dibayarkan lewat mata uang kripto dengan imbalan kunci digital bagi perusahaan untuk kembali bisa mengakses data mereka.

Perusahaan dan institusi sering menghadapi dilema dan tekanan dari para peretas untuk membayar uang agar data mereka bisa kembali dibuka. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi para klien dan otoritas setempat yang sering kali marah dan mengeluarkan peringatan keras agar mereka tidak membayar peretas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini