Beberapa hari setelah pertempuran Surabaya pecah, Jasin melalui radio mengumumkan pasukan Polisi Istimewa sudah dimiliterisasi dan karenanya diharuskan untuk ikut pertempuran dengan Jasin sebagai pemimpin pasukan. Dia pun ikut dalam pertempuran di beberapa tempat dan meninggalkan Surabaya sehingga memindahkan markas polisi ke Sidoarjo pada akhir November 1945, setelah hampir semua kota dikuasai Inggris.
Pada saat Belanda meluncurkan Agresi Militer 2, Jasin juga bergerilya di Gunung Willis dan sebagai Komandan Militer Sektor Timur Madiun.
Dalam hal ini, polisi tidak hanya sebagai alat keamanan, tetapi sekaligus juga sebagai alat pertahanan.
Kemudian, barulah pada 14 November 1961 pada saat Konferensi Djawatan Kepolisian Negara di Purwokerto, Jasin dilantik sebagai Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, sekaligus koordinator Mobrig di semua keresidenan Jawa Timur, yang sekarang dikenal dengan nama Brigade Mobil (Brimob), pasukan khusus yang dapat berfungsi sebagai pasukan tempur.
Tujuan dibentuknya Mobrig ini oleh Perdana Menteri, Sutan Syahrir, sebagai perangkat politik untuk menghadapi tekanan politik tentara dan pelindung terhadap kudeta yang melibatkan satuan militer.
Pada September 1948, dengan jabatan barunya Komandan MBB Jawa timur, Jasin memimpin empat kompi Mobrig bersama TNI untuk menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun dan operasi pembersihan PKI di Blitar Selatan.