Bayi yang terlahir stunting secara fisik akan kalah dengan bayi normal demikian pula secara mental dan intelektual juga rendah dan sakit-sakitan, kardiovaskular, stroke, darah tinggi serangan jantung. “Itu semua jadi langganan akrab orang stunting. Kesimpulannya, kalau kita stunting kita jadi gak produktif, malah jadi beban,” ujarnya.
Untuk mengatasi faktor dekat ini, BKKBN membuat Program Pendamping Keluarga. Tahun depan BKKBN menerjunkan 600 ribu tenaga Pendamping Keluarga yang melekat di seluruh Indonesia. Pendamping Keluarga ini terdiri dari bidan, kader Keluarga Berencana (KB), kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
“Pendamping Keluarga yang sudah kami training ini akan mengawal reproduksi, proses kehamilan dan kelahiran di seluruh kelurahan dan desa di Indonesia,” ujarnya.
BKKBN akan memastikan proses reproduksi masyarakat dapat dikawal dengan baik. Melalui para Pendamping Keluarga ini akan mengarahkan kepada setiap penduduk selama seribu hari pertama kehidupan bayi.
“Seribu hari pertama ini sangat menentukan bayi akan tumbuh stunting atau tidak. Para Pendamping Keluarga ini akan mengarahkan penduduk untuk cek status gizi, dan perkembangan bayi,” katanya.
Hasto menambahkan, sebuah desa yang berpenduduk 3.000 orang misalnya, itu akan ada 21 pernikahan setiap tahun, atau sekitar dua pernikahan setiap bulan. Pendamping Keluarga sudah mulai bekerja mendampingi pasangan yang mau menikah. “Mengecek kesehatan mereka, layak hamil atau tidak,” ujarnya.
BACA JUGA: BKKBN Apresiasi Penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi, dan Stunting di Kota Semarang
Saat melakukan pendampingan, Pendamping Keluarga pastinya juga dibekali berbagai strategi mengingat tingkat heterogenitas masyarakat Indonesia, baik budaya, agama, dan kelas sosial, yang sangat tinggi. “Kami bekerja sama dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, psikolog, ahli parenting, dan lain-lain,” kata Hasto.
Beberapa kasus yang sering dihadapi adalah penolakan berbasis agama, dan kepercayaan banyak anak banyak rejeki. “Para Pendamping Keluarga tidak akan sendirian untuk menghadapi kasus-kasus seperti ini. Pada masyarakat kelas menengah yang kritis misalnya, kami tentu akan menurunkan psikolog atau pakar parenting supaya target merasa nyaman,” tuturnya.
Permudah Program Pendamping Keluarga melalui Aplikasi Elsimil