JAKARTA - Kongres Perempuan Indonesia I yang dilaksanakan pada 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta merupakan cikal bakal dari peringatan Hari Ibu yang dilakukan setiap tanggal 22 Desember. Tentunya, kongres penting ini digawangi beberapa orang tokoh wanita hebat yang berani. Berikut daftar tokoh wanita hebat diolah dari berbagai sumber.
1. Nyi Hajar Dewantara
Istri Ki Hajar Dewantara ini merupakan pendiri Wanita Taman Siswa dan memimpin perguruan Taman Siswa hingga akhir hayatnya. Wanita bernama asli Raden Ajeng Sutartinah yang dilahirkan pada 1890 ini turut mendampingi suaminya saat dibuang ke Belanda selama 6 tahun, yakni pada 1913 – 1919. Dalam buku ‘Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama’ yang diproduksi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nyi Hajar Dewantara adalah salah satu inisiator diselenggarakannya kongres penting ini. Meskipun demikian, dalam kepanitiaan ia hanya duduk sebagai panitia biasa. Saat kongres, Nyi Hajar Dewantara menyampaikan pidato bertajuk ‘Adab Perempuan’. Di dalamnya, ia banyak bicara seputar pokok-pokok pikiran perempuan.
Baca juga: Peristiwa 22 Desember: Peringatan Hari Ibu
2. Siti Aminah
Bersama dengan Nyi Hajar Dewantara, Siti Aminah atau yang lebih akrab disapa Nyonya R.A Sukonto menginisiasi digelarnya Kongres Perempuan pada 1928. Wanita asal Temanggung, Jawa Tengah ini lahir pada 5 Agustus 1989. Aminah menikah dengan seorang dokter bernama Sukonto pada 1907 dan dikaruniai 7 orang anak. Aminah mendapat dorongan kuat untuk membaca banyak buku dan menulis dari suaminya. Hal itulah yang semakin membuka pikirannya untuk bisa lebih maju.
Saat hijrah ke Yogyakarta, Aminah bergabung dengan organisasi Wanita Utomo. Organisasi ini diisi oleh para ibu rumah tangga dan bergerak dalam kegiatan sosial serta kesejahteraan wanita. Karena cara bicaranya lancar dan aktif, Aminah terpilih menjadi Ketua Wanita Utomo yang semakin melesat. Ia juga ditunjuk sebagai ketua Kongres Perempuan dan mewakili Wanita Utomo.
3. Sujatin Kartowijono
Tokoh perempuan lain yang berada di balik perhelatan Kongres Perempuan adalah Sujatin Kartowijono. Wanita kelahiran Wates, 9 Mei 1907 ini mendirikan perkumpulan guru wanita bernama Poetri Indonesia. Ia juga didapuk sebagai ketuanya. Melihat kesukesan Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda, ia beserta rekan-rekannya tergerak untuk melakukan hal serupa, namun bagi perempuan. Terbentuklah panitia Kongres Perempuan Indonesia I, yang terdiri dari Nyi Hajar Dewantara, Nyonya Sukanto, dan Sujatin.
Sejak kecil, Sujatin memang dikenal sebagai anak yang aktif dan cerdas. Hal itu bisa dilihat dari nilai-nilai rapornya yang selalu baik saat bersekolah di HIS Karanganyar. Meskipun demikian, ia mengakui tidak terlalu betah belajar di sekolah Belanda itu. Sebab, lingkungan di dalamnya terlalu resmi dan kaku. Beranjak remaja, Sujatin semakin aktif di organisasi terutama Jong Java bagian putri. Dirinya juga sangat gemar membaca buku, salah satunya adalah buku R.A Kartini berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
4. Sunaryati Sukemi
Wanita bernama asli Sudarawerti ini lahir pada 25 Desember 1907 di Tuban. Nama itu kemudian diubah oleh orangtuanya menjadi Sunaryati. Sebab, Sudarawerti sering sakit-sakitan. Sunaryati merupakan adik dari tokoh pergerakan Indonesia, Sugondo Joyopuspito. Ia adalah Ketua Kongres Sumpah Pemuda II tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Sunaryati kemudian menjadi guru dan mengabdi di Taman Siswa, dari tahun 1927 hingga 1947. Dirinya juga masuk ke organisasi Wanita Taman Siswa yang digawangi Nyi Hajar Dewantara. Selain itu, ia juga aktif berorganisasi lain yakni Putri Indonesia. Berkat keaktifan dan kecerdasannya, Sunaryati terpilih menjadi pengurus Kongres Perempuan Indonesia I.
(Susi Susanti)